60% Bank Raksasa AS Resmi Adopsi Kripto, Sinyal Positif Harga Bitcoin?

BELIASET – Dulu dimusuhi, sekarang dicari. Mungkin itulah kalimat yang pas untuk menggambarkan hubungan antara perbankan Amerika Serikat dengan Bitcoin (BTC) saat ini.

Sebuah laporan terbaru dari firma jasa keuangan River mengungkap fakta mengejutkan: 60% dari bank-bank terbesar di Amerika Serikat kini sudah mulai, atau berencana, menawarkan layanan terkait Bitcoin. Mulai dari layanan trading hingga penyimpanan aset (custody).

Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi Harga Bitcoin. Masuknya institusi keuangan raksasa (Traditional Finance/TradFi) menandakan bahwa Aset Keuangan Digital ini bukan lagi mainan “bawah tanah”, melainkan aset kelas dunia yang diakui secara institusional. Apa dampaknya buat strategi investasi kamu di tahun 2026 ini?

CEO Coinbase: “Bank Takut Ketinggalan Kereta”

Dilansir dari Cointelegraph, perubahan sikap ini terlihat jelas dalam ajang World Economic Forum di Davos, Swiss, baru-baru ini. Brian Armstrong, CEO Coinbase, menceritakan pengalamannya bertemu dengan para petinggi bank global.

“Kebanyakan dari mereka (CEO Bank) sebenarnya sangat pro-kripto dan melihat ini sebagai peluang. Bahkan, salah satu CEO bank 10 besar dunia bilang ke saya kalau kripto adalah prioritas nomor satu mereka karena dianggap eksistensial,” ungkap Armstrong.

Artinya, bank-bank ini sadar: kalau mereka tidak adopsi kripto sekarang, mereka akan punah digilas inovasi. Ini jauh berbeda dengan era “Operation Chokepoint 2.0” di mana bank AS sempat dipaksa pemerintah untuk memutus hubungan dengan perusahaan kripto.

Raksasa Mulai Turun Gunung

Siapa saja pemain besar yang mulai “main” Bitcoin? Laporan River menyoroti nama-nama kelas kakap:

  • UBS (Swiss/AS): Dikabarkan akan membuka layanan trading Bitcoin dan Ethereum untuk nasabah super kaya (High Net Worth Individuals).

  • JPMorgan Chase: Sedang mempertimbangkan fitur trading kripto.

  • Wells Fargo: Menawarkan pinjaman dengan jaminan Bitcoin (Bitcoin-backed loans) untuk klien institusi.

  • Citigroup: Menjajaki layanan penyimpanan aset (custody) institusional.

Sebagai gambaran, gabungan aset ketiga bank raksasa AS (JPMorgan, Wells Fargo, Citi) mencapai lebih dari $7,3 triliun atau setara Rp116.800 triliun (kurs estimasi Rp16.000/USD)! Bayangkan jika sebagian kecil saja dari dana kelolaan ini mengalir ke Bitcoin, Harga Bitcoin bisa mendapat dorongan likuiditas yang masif.

Konteks Indonesia (OJK):

Di Amerika, bank bisa langsung menawarkan jual-beli Bitcoin. Di Indonesia, peran bank dan kripto masih terpisah secara regulasi. Bank berfungsi sebagai gerbang pembayaran (fiat gateway), sementara transaksi aset terjadi di Pedagang Aset Keuangan Digital (Exchange) yang diawasi OJK.

Masih Ada yang “Wait and See”

Meski mayoritas sudah pro-kripto, masih ada bank besar yang memilih duduk di pinggir lapangan. Bank of America, bank terbesar kedua di AS dengan aset Rp42.720 triliun, belum mengumumkan rencana layanan Bitcoin apapun. Begitu juga dengan Capital One dan Truist Bank.

Selain itu, perlu dicatat bahwa bank-bank ini masih “alergi” terhadap Stablecoin yang memberikan imbal hasil (yield-bearing stablecoins), karena dianggap berisiko mengguncang sistem keuangan tradisional.

FAQ: Apa Dampaknya Bagi Investor Indonesia?

Q: Apakah berita ini akan membuat Harga Bitcoin naik?
A: Secara teori, ya. Adopsi bank besar meningkatkan kepercayaan (trust) dan memudahkan aliran dana institusi masuk ke pasar kripto, yang biasanya menjadi katalis kenaikan harga jangka panjang.

Q: Bisakah saya beli Bitcoin lewat Bank di Indonesia (seperti BCA/Mandiri)?
A: Saat ini belum bisa secara langsung. Kamu harus membeli melalui aplikasi Crypto Exchange yang terdaftar di OJK. Bank di Indonesia hanya memfasilitasi deposit dan penarikan Rupiah.

Q: Apakah ini artinya Bitcoin sudah aman dari risiko?
A: Risiko volatilitas harga tetap ada. Namun, risiko “kematian” Bitcoin makin kecil karena sudah diadopsi oleh sistem keuangan utama dunia.

Q: Mengapa bank AS baru masuk sekarang?
A: Mereka melihat permintaan nasabah yang tinggi dan kejelasan regulasi yang mulai membaik di AS, sehingga mereka berani mengambil langkah bisnis.

Q: Apa yang harus dilakukan investor pemula?
A: Gunakan momentum ini untuk meninjau kembali portofolio. Fokus pada aset bluechip seperti Bitcoin yang diminati institusi, dan hindari koin-koin spekulatif yang tidak punya fundamental jelas.

Disclaimer & Peringatan Risiko:

Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.

What's your reaction?
Happy0
Lol0
Wow0
Wtf0
Sad0
Angry0
Rip0
Leave a Comment