Harga Bitcoin Terancam Jebol Rp1,3 Miliar? The Fed dan “Extreme Fear” Jadi Biang Kerok!

BELIASET – Awal pekan ini mungkin terasa berat buat kamu yang rajin ngecek portofolio. Warna merah masih mendominasi pasar, dan Harga Bitcoin (BTC) terlihat sedang “ngos-ngosan” mempertahankan posisinya.

Sempat tergelincir ke level $86.000 (sekitar Rp1,4 miliar) di akhir pekan, Bitcoin kini mencoba stabil di kisaran $87.850 (sekitar Rp1,47miliar) pada perdagangan Senin siang.

Kenapa pasar terlihat lesu dan takut? Ternyata, ada kombinasi “racun” dari kebijakan Bank Sentral AS (The Fed), drama politik Donald Trump, hingga indikator teknikal yang sinyalnya bearish. Yuk, kita bedah satu per satu biar kamu nggak panik!

Drama The Fed & Trump Bikin Pasar Gugup

Dilansir dari Bitcoin Magazine, mata seluruh investor dunia kini tertuju pada hari Rabu (waktu AS). Bank Sentral AS (The Fed) akan mengumumkan kebijakan suku bunga pertamanya di tahun 2026.

Meskipun pasar memprediksi suku bunga akan ditahan di kisaran 3,50%–3,75%, ketegangan justru datang dari sisi politik. Presiden Donald Trump sedang bersitegang dengan Ketua The Fed, Jerome Powell. Bahkan, ada ancaman penyelidikan kriminal terkait renovasi gedung The Fed yang dianggap sebagai upaya Trump untuk menggoyang independensi Bank Sentral.

Apa dampaknya buat dompet kamu?

Ketidakpastian politik di negara ekonomi terbesar dunia ini membuat investor institusi ragu-ragu. Akibatnya, mereka menahan diri untuk masuk ke aset berisiko seperti Aset Keuangan Digital, dan memilih wait and see.

ETF Boncos, Paus Tetap Serok

Data aliran dana institusi juga menunjukkan sinyal yang campur aduk.

  1. ETF Kripto AS Merah: Sepanjang minggu lalu (berakhir 23 Jan), tercatat arus keluar (outflow) bersih sebesar $1,33 miliar (sekitar Rp21,7 triliun). Ini adalah rekor outflow mingguan terbesar dalam setahun terakhir!

  2. Korporasi Tetap Beli: Di sisi lain, perusahaan software Strategy (pemegang Bitcoin korporat terbesar) melaporkan baru saja membeli 2.932 BTC senilai $264,1 juta dengan harga rata-rata $90.061 per koin.

    Sayangnya, pembelian jumbo dari “Paus” korporat ini belum cukup kuat untuk menahan tekanan jual dari pasar ETF.

Analisis Harga: Waspada Level Kritis Rp1,34 Miliar

Secara teknikal, analis memperingatkan bahwa Harga Bitcoin sedang berada di tepi jurang. Level support di $87.000 sudah ditembus, memberikan kendali pasar kepada penjual (bears).

  • Level Pertahanan Terakhir: Kunci saat ini ada di $84.000 (sekitar Rp1,4 miliar). Jika harga penutupan harian jebol di bawah angka ini, Bitcoin bisa meluncur bebas ke zona $72.000 – $68.000.

  • Skenario Terburuk: Jika tekanan jual makin gila, bukan tidak mungkin harga menyentuh $58.000 (Rp971 juta).

  • Skenario Bangkit: Untuk aman, pembeli harus bisa mendorong harga kembali ke atas $88.000 dan menargetkan $91.400.

Saat ini, Fear and Greed Index berada di angka 20 (Extreme Fear). Secara historis, ketakutan ekstrem sering kali menjadi momen buying opportunity (kesempatan beli murah), tapi risikonya sangat tinggi ibarat menangkap pisau jatuh.

FAQ: Pertanyaan Seputar Kondisi Pasar Saat Ini

Q: Apa itu “Extreme Fear” di pasar kripto?
A: Ini adalah indikator sentimen yang menunjukkan investor sedang sangat takut/panik. Biasanya ini terjadi saat harga turun tajam. Bagi investor berpengalaman, ini kadang dilihat sebagai waktu diskon, tapi bagi pemula ini adalah sinyal bahaya.

Q: Kenapa Bitcoin turun padahal ada perusahaan besar yang beli?
A: Volume penjualan dari ETF ($1,33 Miliar) jauh lebih besar daripada pembelian perusahaan tersebut ($264 Juta). Tekanan jual yang lebih besar membuat harga turun.

Q: Apakah The Fed bakal menaikkan suku bunga?
A: Prediksi pasar saat ini adalah “Tahan” (tidak naik/turun). Namun, pidato Jerome Powell nanti bisa saja memberikan kejutan yang bikin pasar goyang.

Q: Kalau Bitcoin turun ke Rp900 jutaan, apakah itu saat tepat buat beli?
A: Secara teknikal, area $58.000 (Rp900 jutaan) adalah support kuat. Namun, selalu gunakan uang dingin dan lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum memutuskan.

Q: Bagaimana cara melindungi aset saat pasar crash?
A: Jangan panik jual (panic selling) jika tujuanmu jangka panjang. Kamu bisa menggunakan fitur staking (jika tersedia di platform legal OJK) untuk tetap dapat passive income sambil menunggu harga naik, atau konversi ke stablecoin sementara waktu.

Disclaimer & Peringatan Risiko:

Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.

What's your reaction?
Happy0
Lol0
Wow0
Wtf0
Sad0
Angry0
Rip0
Leave a Comment