Bank of America Diam-diam Borong ETF XRP! Sinyal Altcoin Bangkit Saingi Harga Bitcoin?

BELIASET– Di saat mata investor dunia terpaku pada pergerakan Harga Bitcoin (BTC) yang sedang volatil, sebuah kejutan besar datang dari salah satu bank terbesar di Amerika Serikat.

Bank of America (BofA), raksasa perbankan global, diam-diam terungkap telah masuk ke pasar XRP! Berdasarkan dokumen pengajuan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) tertanggal 3 Februari 2026, BofA tercatat memiliki kepemilikan di ETF XRP.

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa institusi keuangan tradisional (TradFi) mulai melirik aset kripto selain Bitcoin sebagai bagian dari strategi diversifikasi mereka. Apakah ini pertanda XRP akan segera rebound? Yuk, kita bedah datanya!

BofA Masuk XRP: Nominal Kecil, Dampak Besar

Dilansir dari CoinGape, dokumen SEC menunjukkan bahwa Bank of America memegang 13.000 lembar saham dari Volatility Shares XRP ETF.

Jika dihitung dengan kurs saat ini, nilai investasi tersebut berada di kisaran $224.640 atau setara Rp3,6 miliar (kurs estimasi Rp16.000/USD).

Mungkin kamu berpikir, “Ah, cuma Rp3,6 miliar, kecil banget buat bank sekelas BofA!”. Betul, nominalnya memang moderat. Namun, dalam dunia investasi institusional, langkah ini adalah simbol validasi yang masif.

Ini menunjukkan bahwa BofA tidak hanya sekadar “omong doang” soal kemitraan pembayaran lintas batas dengan Ripple, tapi benar-benar menaruh uang mereka di aset terkait XRP.

Arus Uang Masuk Rp311 Miliar, Tapi Harga Masih “Diskon”

Berita masuknya BofA ini sejalan dengan tren positif di pasar ETF XRP Amerika. Pada hari Selasa, tercatat arus masuk bersih (net inflows) sebesar $19,46 juta atau sekitar Rp311 miliar. Produk ETF dari Franklin Templeton dan Bitwise menjadi primadona yang paling banyak diburu.

Namun, anehnya harga XRP di pasar spot justru masih tertekan. XRP terpantau turun 1% ke level $1,58 atau sekitar Rp25.280.

Kenapa harga turun padahal banyak yang beli?

  1. Tekanan Jual Insider: Pihak internal Grayscale (DCG International) dilaporkan menjual lebih dari 19.000 saham ETF mereka.

  2. Pasar Derivatif Lesu: Minat pada pasar futures XRP turun, menandakan para trader jangka pendek sedang wait and see.

Kondisi ini mirip dengan Harga Bitcoin yang terkadang stagnan meski ada akumulasi institusi, karena adanya pertarungan antara pembeli jangka panjang vs penjual jangka pendek.

Apa Artinya Buat Investor Indonesia?

Bagi kamu investor muda di Indonesia, manuver Bank of America ini bisa jadi insight menarik. Institusi besar mulai mendiversifikasi portofolio kripto mereka, tidak hanya terpaku pada satu aset saja.

Catatan OJK:

Perlu diingat, Bank of America membeli XRP melalui jalur ETF (produk bursa saham). Di Indonesia, kamu bisa membeli aset XRP secara langsung (Spot) melalui Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) yang terdaftar di OJK.

FAQ: Pertanyaan Seputar BofA dan XRP

Q: Apakah langkah BofA ini akan membuat harga XRP naik tinggi?
A: Jangka pendek mungkin belum tentu, karena tekanan jual pasar masih ada. Namun jangka panjang, masuknya bank besar memberikan legitimasi yang kuat, mirip seperti saat institusi mulai masuk ke Harga Bitcoin beberapa tahun lalu.

Q: Apakah XRP akan menyaingi Harga Bitcoin?
A: Sangat sulit. Bitcoin tetaplah “Raja” dengan kapitalisasi pasar terbesar dan fungsi sebagai Store of Value. XRP lebih fokus pada solusi pembayaran perbankan. Keduanya punya “kolam” yang berbeda.

Q: Apakah aman membeli XRP sekarang di harga Rp25.000?
A: Harga saat ini sedang koreksi (dip). Bagi investor yang percaya fundamental Ripple dan adopsi perbankan, ini bisa jadi area akumulasi. Tapi ingat, risiko turun masih ada.

Q: Kenapa harga XRP turun padahal ada berita bagus?
A: Di pasar kripto, sering terjadi fenomena Sell the News atau tekanan jual dari faktor makro lain yang lebih besar (seperti kebijakan The Fed).

Q: Apa bedanya beli XRP di Exchange vs ETF?
A: Beli di Exchange (seperti di Indonesia) kamu punya koinnya. Beli ETF (seperti BofA) kamu beli kontrak yang melacak harganya. Untuk ritel Indonesia, beli di Exchange lebih mudah dan murah.

Disclaimer & Peringatan Risiko:

Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.

What's your reaction?
Happy0
Lol0
Wow0
Wtf0
Sad0
Angry0
Rip0
Leave a Comment