Ethereum “Obral” di Bawah Rp32 Juta, Analis: Bisa Turun ke Rp20 Juta! Pengaruh ke Harga Bitcoin?

BELIASET – Di saat mata investor tertuju pada fluktuasi Harga Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar kedua, Ethereum (ETH), sedang mengalami masa-masa sulit. Hingga Selasa ini, Ethereum tampak “ngos-ngosan” untuk bertahan di atas level psikologis $2.000 atau sekitar Rp32 juta (kurs estimasi Rp16.000/USD).

Penurunan harga sebesar 31% sepanjang tahun 2026 ini membuat banyak investor ritel bertanya-tanya: “Apakah ini sudah dasar (bottom) atau masih bisa turun lagi?”

Dilansir dari Cointelegraph, analisis terbaru menunjukkan bahwa penurunan ini mungkin baru permulaan dari fase konsolidasi yang panjang. Pola pergerakan harga (fractal) dari siklus sebelumnya mengisyaratkan bahwa Ethereum berpotensi menguji level yang jauh lebih rendah, yakni di kisaran $1.300 (Rp20,8 juta) hingga $1.500 (Rp24 juta), sebelum benar-benar bangkit.

Dejavu Siklus 2021: Siap-siap Fase “Membosankan”

Analis pasar melihat adanya kemiripan pola yang mencolok antara kondisi saat ini dengan siklus 2021-2022.

  • Pola “First Low”: Penurunan Ethereum baru-baru ini ke level $1.736 (Rp27,7 juta) diprediksi hanyalah “kaki pertama” (first low).

  • Fase Konsolidasi: Berkaca dari sejarah, setelah penurunan tajam, pasar biasanya tidak langsung rebound membentuk huruf V. Sebaliknya, pasar butuh waktu berbulan-bulan untuk membangun fondasi harga (base building).

  • Zona Bahaya: Dalam skenario ini, harga ETH diprediksi akan bergerak menyamping (ranging) di antara Rp20,8 juta hingga Rp32 juta, dengan risiko penurunan sesaat (wick) ke area Rp24 juta.

Zona Beli Ideal: Di Mana “Tembok” Pertahanannya?

Jika harga terus turun, di mana level terbaik untuk mulai mencicil serok? Data on-chain dari Glassnode memberikan peta harta karunnya lewat indikator URPD (UTXO Realized Price Distribution).

  1. Resistensi Tebal (Atap): Banyak investor “nyangkut” di harga atas, terutama di kisaran $2.800 – $3.100. Ini akan menjadi penghalang berat saat harga mencoba naik.

  2. Support Kuat (Lantai):

    • Rp30 Juta ($1.881): Ada sekitar 1,58 juta ETH yang dibeli di harga ini. Ini pertahanan pertama.

    • Rp19,8 Juta ($1.237): Ini adalah benteng pertahanan terakhir dan terkuat. Banyak analis melihat level ini sebagai cycle floor atau harga dasar siklus ini.

Selain data spot di atas, pasar derivatif (futures) juga memberikan petunjuk krusial. Peta likuidasi menunjukkan adanya tumpukan posisi Long senilai $4 miliar hingga $6 miliar yang terancam ‘hangus’ jika harga turun ke area $1.455 – $1.700 (Rp23 juta – Rp27 juta).

Dalam dunia trading, area ini sering menjadi magnet bagi market maker untuk melakukan flush atau pembersihan posisi leverage sebelum harga benar-benar dipompa naik mengejar likuiditas Short jumbo senilai $12 miliar yang menanti di level $3.000. Jadi, jangan kaget jika ada ‘jarum’ penurunan tajam sesaat ke level ini.

Sinyal Positif: Paus Mulai Pindahkan Aset ke Dompet Pribadi

Meskipun grafik harga terlihat suram, ada aktivitas “bawah tanah” yang justru sangat bullish (positif).

Data dari CryptoQuant menunjukkan terjadinya penarikan besar-besaran Ethereum dari bursa (exchange). Tercatat lebih dari 220.000 ETH keluar dari exchange (sebagian besar dari Binance) baru-baru ini.

Apa Artinya?

Ketika investor besar (Paus) menarik aset dari exchange ke dompet pribadi (self-custody), itu tandanya mereka berniat menyimpan jangka panjang (HODL) dan tidak berencana menjual dalam waktu dekat. Ini mengurangi tekanan jual di pasar.

Selain itu, volume transaksi stablecoin di jaringan Ethereum naik 200% dalam 18 bulan terakhir. Menurut analis Michaël van de Poppe, ini adalah divergensi positif: Aktivitas jaringan tumbuh pesat, tapi harganya masih murah. Biasanya, harga akan menyusul naik kemudian.

Peringatan OJK:

Analisis teknikal dan on-chain hanyalah alat bantu probabilitas, bukan kepastian masa depan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) senantiasa mengingatkan agar investor menyesuaikan profil risiko masing-masing. Jangan gunakan uang kebutuhan sehari-hari untuk membeli aset volatil yang sedang dalam tren turun (downtrend).

FAQ: Pertanyaan Seputar Harga Ethereum dan Bitcoin

Q: Apakah penurunan Ethereum akan menyeret Harga Bitcoin turun?
A: Biasanya sebaliknya. Harga Bitcoin memimpin pasar. Jika Bitcoin stabil, Ethereum punya peluang rebound. Namun jika Ethereum jebol ke Rp20 juta, sentimen negatif bisa mempengaruhi pasar kripto secara keseluruhan, termasuk Bitcoin.

Q: Level harga berapa yang aman untuk mulai beli ETH?
A: Berdasarkan data, area Rp24 juta – Rp27 juta bisa menjadi titik masuk awal (cicil 1). Area Rp19 juta – Rp20 juta dianggap sebagai zona beli “diskon besar” (cicil 2).

Q: Kenapa banyak ETH keluar dari Exchange?
A: Investor besar mengakumulasi di harga rendah ($1.800-$2.000) dan memindahkannya ke cold wallet. Ini sinyal bahwa mereka percaya harga akan naik di masa depan.

Q: Apa risiko terburuknya saat ini?
A: Peta likuidasi menunjukkan risiko long squeeze (likuidasi posisi beli) jika harga turun ke $1.455 (Rp23 juta). Ini bisa memicu penurunan cepat sesaat.

Q: Lebih baik beli Ethereum atau Bitcoin sekarang?
A: Tergantung profil risiko. Harga Bitcoin cenderung lebih stabil sebagai penyimpan nilai. Ethereum menawarkan potensi keuntungan persentase lebih tinggi karena harganya sudah terdiskon lebih dalam, namun risikonya juga lebih besar.

Disclaimer & Peringatan Risiko:

Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.

What's your reaction?
Happy0
Lol0
Wow0
Wtf0
Sad0
Angry0
Rip0
Leave a Comment