BELIASET – Pasar kripto kembali dipaksa menelan pil pahit. Rencana pemulihan yang diidam-idamkan investor tampaknya harus tertunda gara-gara krisis energi global. Harga Bitcoin (BTC) kembali merosot ke bawah level $70.000, bertepatan dengan rencana darurat Badan Energi Internasional (IEA) yang ingin melepas cadangan minyak raksasa untuk menstabilkan harga energi dunia.
Bagi kamu investor muda, situasi ini adalah sebuah Big Deal. Kenapa urusan minyak bisa membuat pasar kripto kebakaran jenggot? Sederhananya, harga minyak yang mahal akan memicu inflasi global. Jika inflasi tinggi, suku bunga akan tetap ditahan di level atas, yang otomatis membuat instrumen investasi berisiko tinggi seperti kripto dijauhi oleh “uang pintar” (smart money).
Saat ini, ketakutan begitu terasa hingga para trader profesional rela membayar mahal untuk membeli “asuransi” kerugian. Dilansir dari Decrypt, mari kita bedah bagaimana manuver geopolitik energi ini bisa memengaruhi arah portofoliomu, dan benarkah Bitcoin bisa jatuh lebih dalam.
Manuver Bersejarah IEA: Bumerang Bagi Aset Berisiko
Tekanan terhadap pasar kripto minggu ini bermula dari wacana IEA yang mengusulkan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarahnya.
Berdasarkan laporan Wall Street Journal, intervensi pasar ini diproyeksikan akan melampaui rekor 182 juta barel minyak yang pernah digelontorkan negara-negara anggota IEA pada 2022 silam pasca-invasi Rusia ke Ukraina. Langkah darurat ini dibahas dalam pertemuan luar biasa IEA pada hari Selasa dan dapat segera dieksekusi jika tidak ada penolakan dari negara anggota.
Markus Levin, Co-founder XYO Network, menjelaskan bahwa secara historis Bitcoin memang tidak memiliki korelasi langsung dengan harga minyak.
“Yang jauh lebih berdampak adalah ketika ketegangan geopolitik (yang memicu krisis minyak) mulai merembet ke pasar keuangan yang lebih luas,” ungkap Levin.
Harga minyak mentah yang meroket sering kali memicu kekhawatiran akan inflasi yang “bandel”. Lingkungan makroekonomi seperti ini biasanya menekan performa aset berisiko seperti Bitcoin, membuat sentimen pasar terjebak dalam fase “ketakutan ekstrem” (extreme fear) selama sebulan terakhir.
Sinyal Bahaya: Trader Rela Bayar Mahal Buat “Asuransi” Rugi
Kekhawatiran makro ini langsung tercermin pada layar pergerakan harga. Saat ini, Harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran $69.240 (sekitar Rp1,16 miliar dengan asumsi kurs Rp16.879/USD). Angka ini melorot sekitar 5,9% dari titik puncaknya Kamis pekan lalu yang sempat menyentuh $73.645 (Rp1,24 miliar).
Lebih mengerikan lagi jika kita mengintip data dari pasar derivatif (kontrak berjangka/opsi).
Menurut data Deribit, indikator 25 delta skew—sebuah metrik yang melacak rasio permintaan kontrak jual (puts) dibandingkan kontrak beli (calls)—saat ini berada di kisaran negatif 6%.
Dalam bahasa yang lebih sederhana: Para trader institusi saat ini sedang panik dan rela membayar premi lebih mahal untuk membeli put options (asuransi lindung nilai jika harga jatuh).
Bahkan, di pasar prediksi Myriad, mayoritas pengguna kini bersikap pesimis. Sebanyak 53% bertaruh bahwa langkah Bitcoin selanjutnya adalah longsor ke angka $55.000 (sekitar Rp928 juta), ketimbang naik ke $84.000 (Rp1,41 miliar).
Sammi Li, CEO dari JU.COM, mencatat bahwa jika intervensi IEA sukses menekan harga energi, ketegangan makro mungkin akan mereda dan sentimen pasar kripto bisa tertolong. Namun, jika ketidakpastian makroekonomi ini terus berlanjut dan aksi jual terus mendominasi, penurunan Harga Bitcoin menuju kisaran $54.000 hingga $55.000 (Rp911 juta – Rp928 juta) bukanlah sesuatu yang mustahil.
Dampaknya Buat Investor Indonesia di Era OJK 2026
Guncangan makro ekonomi AS dan krisis energi dunia ini memberikan pelajaran mahal tentang pentingnya manajemen risiko.
Peringatan OJK:
Di era pengawasan penuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2026 ini, kami terus mengimbau investor ritel (Milenial & Gen Z) untuk tidak ikut-ikutan bermain di pasar derivatif (futures/options) jika belum memiliki keahlian khusus.
Saat trader institusi memborong “asuransi” kerugian, itu adalah sinyal volatilitas tinggi. Jangan menebak arah pasar dengan menggunakan uang pinjaman (leverage). Pastikan kamu tetap tenang, gunakan uang “dingin”, dan hanya bertransaksi pada pasar Spot melalui Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang resmi terdaftar di Indonesia.
FAQ: Apa yang Harus Kamu Lakukan Sekarang?
Q: Kenapa harga minyak yang mahal bisa bikin Harga Bitcoin turun?
A: Harga minyak yang meroket akan membuat biaya logistik dan produksi global naik, memicu inflasi. Jika inflasi naik, Bank Sentral (seperti The Fed) tidak akan menurunkan suku bunga. Suku bunga yang tinggi membuat investor lebih suka menaruh uangnya di instrumen yang aman (seperti obligasi AS) daripada di aset berisiko seperti kripto.
Q: Apa maksudnya trader membeli “asuransi” kerugian (Put Options)?
A: Di pasar derivatif, trader bisa membeli kontrak Put Option. Kontrak ini memberi mereka hak untuk menjual Bitcoin di harga tertentu di masa depan. Jika harga Bitcoin benar-benar anjlok, mereka tidak akan rugi besar karena kerugiannya sudah dilindungi oleh kontrak tersebut. Ini menandakan mereka sedang bersiap menghadapi skenario terburuk.
Q: Kalau Harga Bitcoin diprediksi turun ke Rp864 Juta, apakah saya harus cut loss sekarang?
A: Keputusan ini sangat bergantung pada horizon investasimu. Jika kamu trader jangka pendek yang masuk di harga pucuk, mengamankan modal mungkin masuk akal. Namun, jika kamu adalah investor jangka panjang, penurunan harga tajam sering kali dimanfaatkan sebagai momen diskon untuk melakukan Dollar Cost Averaging (DCA).
Q: Apakah krisis energi ini akan membunuh tren bull market kripto?
A: Tidak semudah itu. Krisis energi adalah gangguan makroekonomi eksternal. Secara fundamental, jaringan Bitcoin tetap berjalan normal. Jika wacana IEA berhasil menstabilkan harga minyak dunia, tekanan terhadap inflasi akan mereda, dan modal institusi bisa kembali mengalir deras ke pasar kripto.
Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.
