Rekor Pecah! Volume Transfer USDC Kalahkan Tether, Akankah Memicu Lonjakan Harga Bitcoin?

BELIASET – Selama bertahun-tahun, jika kita bicara soal “uang tunai” di dunia kripto, nama Tether (USDT) selalu menjadi raja mutlak. Namun, sejarah baru saja tercipta. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, USD Coin (USDC) besutan Circle resmi melengserkan takhta USDT dalam hal volume transfer alias kecepatan perputaran uang.

Bagi kamu investor muda, pergeseran ini adalah sebuah Big Deal. Stablecoin adalah pelumas penggerak pasar kripto. Ketika miliaran Dolar berpindah tangan dengan sangat cepat, ini menandakan bahwa institusi dan trader sedang bersiap mengeksekusi strategi tingkat tinggi.

Sering kali, perputaran likuiditas yang masif ini adalah indikator awal (leading indicator) yang akan mendikte arah volatilitas dan dorongan Harga Bitcoin (BTC) ke depannya.

Lantas, bagaimana USDC bisa menyalip USDT, dan apa sebenarnya yang terjadi di balik layar jaringan Solana? Mari kita bedah data lengkapnya!

USDT Masih Raksasa, Tapi USDC Lebih “Lincah”

Dilansir dari analisis CryptoSlate berdasarkan catatan riset Mizuho, terjadi perpecahan fungsi yang sangat jelas di pasar stablecoin saat ini. Tether (USDT) masih menjadi raja dalam hal total pasokan (supply), sementara USDC menjadi penguasa dalam hal kecepatan transaksi.

Data menunjukkan bahwa USDC kini menguasai 64% dari total volume transfer antara dua raksasa stablecoin ini. Pada bulan Februari saja, dari total volume transfer stablecoin global sebesar $1,8 triliun, USDC menyumbang sekitar $1,26 triliun (setara Rp21.387 triliun dengan asumsi kurs Rp16.974/USD). Sementara itu, USDT hanya mencatatkan volume transfer sekitar $514 miliar (Rp8.724 triliun).

Namun, yang membuat fenomena ini menarik adalah perbandingan kapitalisasi pasarnya. Secara pasokan yang beredar, USDT masih mendominasi dengan nilai raksasa $184 miliar (Rp3.123 triliun), berbanding jauh dari USDC yang hanya $79 miliar (Rp1.340 triliun).

Artinya, koin USDT lebih banyak “tidur” atau sekadar disimpan (dormant) oleh investor, sementara pasokan USDC yang lebih kecil justru berputar dan berpindah tangan dengan sangat liar dan aktif di berbagai platform finansial.

“Faktor Solana” di Balik Ledakan Transfer USDC

Dari 30 blockchain yang mendukung USDC, jaringan Solana menjadi bintang utama di balik ledakan perputaran uang ini.

Data dari Grayscale mencatat bahwa Solana sukses memproses transaksi stablecoin senilai $650 miliar (Rp11.033 triliun) pada bulan Februari, memecahkan rekor tertingginya dan mengalahkan jaringan kompetitor lain. Lebih gila lagi, laporan dari Token Terminal mencatat volume transfer USDC bulanan di Solana meroket tajam 300% secara year-over-year (YoY).

Apa rahasianya? Jawabannya ada pada biaya transaksi (gas fees) yang super murah. Pada periode yang sama, biaya transaksi rata-rata di Solana turun ke level terendah dalam setahun, yakni hanya $0,00047 (sekitar Rp7,5)!

Biaya semurah ini menjadi surga bagi Market Maker dan algoritma trading bot untuk melakukan penyeimbangan portofolio, routing transaksi, hingga arbitrase ribuan kali dalam sehari. Selain itu, bursa desentralisasi (DEX) di Solana yang sebelumnya didominasi oleh transaksi koin “micin” (memecoin), kini bertransisi secara fundamental menjadi tempat pertukaran stablecoin yang jauh lebih serius.

Dampaknya Buat Investor Indonesia di Era OJK 2026

Perputaran likuiditas stablecoin yang sangat cepat ini membuktikan bahwa utilitas kripto sebagai jalur penyelesaian transaksi (settlement rails) dunia semakin matang.

Catatan Pengawasan OJK:

Memasuki era regulasi penuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2026, kematangan infrastruktur pasar ini membawa dampak positif bagi investor di Indonesia.

Tingginya aktivitas transfer USDC menunjukkan bahwa uang dari investor global sedang sangat aktif mengalir di bursa desentralisasi (DeFi). Aliran likuiditas ini biasanya menjadi fondasi kuat yang siap disuntikkan kapan saja ke dalam aset utama, sehingga berpotensi menjadi “bensin” pendorong bagi Harga Bitcoin dalam menembus rekor baru. Namun, sebagai investor ritel, kamu tidak perlu ikut pusing memutar stablecoin di ranah DeFi yang rumit. Pastikan kamu menyimpan dan membeli stablecoin maupun aset kriptomu di Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang resmi terdaftar di Indonesia demi jaminan keamanan hukum.

FAQ: Apa yang Perlu Kamu Pahami?

Q: Mengapa USDC lebih banyak ditransfer dibandingkan USDT padahal pasokannya lebih kecil?
A: Pasokan USDC banyak terkonsentrasi di jaringan dengan biaya transaksi super murah dan cepat seperti Solana. Hal ini membuatnya menjadi pilihan utama bagi institusi, smart contract, dan aplikasi DeFi untuk memindahkan dana operasional secara intensif setiap hari, sedangkan USDT lebih banyak dipakai sebagai aset “simpanan” pasif di dompet investor.

Q: Apakah pergeseran uang ini akan berdampak langsung ke Harga Bitcoin?
A: Ya, secara tidak langsung. Kecepatan transaksi (velocity) stablecoin yang tinggi menandakan bahwa “uang pintar” (smart money) sedang aktif merespons pasar. Likuiditas yang melimpah dan mudah bergerak ini merupakan prasyarat utama sebelum terjadinya lonjakan tajam atau reli besar pada pergerakan Harga Bitcoin dan altcoin utama lainnya.

Q: Kalau begitu, apakah saya harus menukar semua USDT saya ke USDC?
A: Tidak perlu. Keduanya adalah aset bernilai setara Dolar AS yang diakui secara luas. Kecuali kamu adalah trader aktif yang bermain di aplikasi desentralisasi (dApps) jaringan Solana yang membutuhkan likuiditas USDC, menahan USDT di bursa lokal (PFAK) untuk sekadar menunggu momentum beli Bitcoin sama amannya.

Q: Apakah aman menyimpan stablecoin dalam jumlah besar di bursa lokal?
A: Selama kamu menyimpannya di bursa (PFAK) yang sudah berizin resmi dari Bappebti dan diawasi oleh OJK, asetmu memiliki perlindungan regulasi. Namun, untuk dana investasi dalam jumlah yang sangat besar, sangat disarankan untuk menyimpannya secara mandiri di dompet perangkat keras (Cold Wallet).

Disclaimer & Peringatan Risiko:

Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.

What's your reaction?
Happy0
Lol0
Wow0
Wtf0
Sad0
Angry0
Rip0
Leave a Comment