BELIASET – Kabar memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang pasar finansial global. Ancaman serangan ke infrastruktur vital membuat pasar kripto kebakaran jenggot, hingga menekan Harga Bitcoin (BTC) kembali merosot ke bawah level $68.000 (sekitar Rp1,14 miliar dengan asumsi kurs Rp16.904/USD).
Namun, di tengah kepanikan massal ini, Anthony Scaramucci—pendiri SkyBridge Capital sekaligus tokoh veteran Wall Street—justru tampil membawa angin segar. Ia dengan tegas menepis keraguan banyak pakar dan memprediksi bahwa Bitcoin sedang bersiap untuk mencetak reli besar-besaran yang akan dimulai pada Kuartal 4 (Q4) tahun 2026 ini.
Bagi kamu investor muda, pernyataan dari raksasa manajer investasi ini adalah sebuah Big Deal. Mengapa? Karena ini membuktikan bahwa di balik volatilitas harga jangka pendek akibat perang, “uang pintar” (smart money) dan institusi besar masih sangat meyakini fundamental jangka panjang kripto dan tidak ikut-ikutan panik menekan tombol sell. Mari kita bedah analisis dan prediksi terbarunya!
Siklus 4 Tahunan Belum Mati!
Dilansir dari CoinGape, belakangan ini banyak pakar top seperti Tom Lee, Cathie Wood, hingga Arthur Hayes yang menyebut bahwa siklus 4 tahunan (4-year cycle) Bitcoin sudah rusak atau tidak lagi relevan akibat intervensi ETF institusional. Namun, Scaramucci membantah keras klaim tersebut.
Dalam wawancaranya di acara The Wolf of All Streets, ia menyebut koreksi harga saat ini hanyalah koreksi pasar biasa (“garden variety”). Menurutnya, aksi jual yang dilakukan oleh para penambang dan “Paus” (whales) veteran di sekitar level harga $100.000 (Rp1,69 miliar) beberapa waktu lalu justru sangat sejalan dengan pola siklus 4 tahunan.
“Kita masih berada dalam siklus empat tahunan. Ada banyak whales tradisional dan para OG (pemain lama) yang sangat percaya pada siklus ini. Dan coba tebak apa yang terjadi kalau kamu sangat mempercayai sesuatu? Kamu akan menciptakan ramalan yang terwujud dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy),” jelas Scaramucci.
Menanti Titik Balik di Kuartal 4 2026
Scaramucci memproyeksikan bahwa Harga Bitcoin akan memulai reli pemulihannya pada Q4 2026. Ia mengakui pasar mungkin masih akan bergerak choppy (naik-turun tak menentu) dalam beberapa waktu ke depan akibat sentimen “ketakutan ekstrem” (extreme fear). Namun, ia meyakini bahwa pasar saat ini sudah sangat mendekati titik dasar (bottom).
Lebih dari sekadar siklus, Scaramucci menyoroti beberapa katalis fundamental yang siap meledakkan harga kripto ke depannya:
-
Pengesahan Undang-Undang CLARITY Act di AS yang memberi kepastian hukum.
-
Makin masifnya adopsi stablecoin dan tokenisasi aset dunia nyata (RWA).
-
Keterlibatan bank-bank besar yang kini mulai menyediakan layanan kustodian (penyimpanan) kripto.
Dengan keyakinan penuh, SkyBridge Capital bahkan dikonfirmasi sedang memborong Bitcoin memanfaatkan harga “diskon” saat ini, dengan target harga jangka panjang yang fantastis: $1 juta (Rp16,9 miliar) per koin!
Terjepit Konflik Geopolitik: Ancaman Jangka Pendek
Meski prospek jangka panjangnya cerah, realita hari ini masih cukup suram. Harga Bitcoin terpantau tertekan di kisaran $68.617 (Rp1,15 miliar).
Penurunan ini dipicu oleh eskalasi perang AS-Iran yang memasuki minggu keempat. Presiden AS Donald Trump baru saja mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam. Iran membalas dengan ancaman akan menutup total selat tersebut dan menyerang infrastruktur energi serta air di seluruh Timur Tengah.
Kepanikan ini membuat Bitcoin bergerak sangat berkorelasi dengan bursa saham AS yang juga sedang ketakutan akan potensi kenaikan suku bunga The Fed (Bank Sentral AS).
Kacamata OJK 2026 untuk Investor Lokal:
Memasuki era pengawasan penuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2026, sentimen perang seperti ini adalah ujian nyata bagi psikologi investor ritel di Indonesia.
Ketegangan Timur Tengah berisiko melambungkan harga minyak, yang ujungnya bisa menekan nilai tukar Rupiah. Saat pasar dibayangi ketakutan ekstrem, hindari mengambil keputusan investasi yang emosional atau menggunakan uang pinjaman (leverage) untuk trading. Amankan asetmu dengan hanya berinvestasi melalui platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) sudah berlisensi resmi, dan selalu siapkan porsi uang tunai untuk memanfaatkan peluang saat harga benar-benar menyentuh bottom.
FAQ: Apa Dampaknya Buat Portofolio Kamu?
Q: Apa itu “Siklus 4 Tahunan” Bitcoin?
A: Ini adalah teori yang menyatakan bahwa Bitcoin bergerak dalam pola empat tahun sekali, yang biasanya dipicu oleh peristiwa Halving (pengurangan pasokan koin baru). Siklus ini biasanya terdiri dari fase akumulasi, pasar bullish (naik tajam), pasar bearish (turun/koreksi), dan konsolidasi.
Q: Kalau Perang AS-Iran makin parah, apakah Harga Bitcoin bakal makin hancur?
A: Dalam jangka pendek, ya. Ketidakpastian perang memicu inflasi harga minyak, sehingga investor cenderung menarik uangnya dari aset berisiko seperti saham dan kripto, lalu menyimpannya di Dolar AS atau obligasi. Namun secara historis, setelah kepanikan awal mereda, pasar kripto biasanya cepat pulih (rebound).
Q: Anthony Scaramucci prediksi Q4 bakal naik. Apakah saya harus beli (all-in) sekarang?
A: Jangan pernah all-in. Prediksi adalah probabilitas, bukan kepastian. Strategi paling aman saat pasar sedang choppy (naik-turun) adalah melakukan Dollar Cost Averaging (DCA) atau mencicil pembelian secara rutin. Ini membantu kamu mendapatkan harga rata-rata yang baik tanpa harus pusing menebak di mana titik terendah pasar.
Q: Apa hubungannya CLARITY Act AS dengan kripto di Indonesia?
A: Amerika Serikat adalah pusat likuiditas keuangan dunia. Jika AS memiliki undang-undang pro-kripto seperti CLARITY Act, triliunan Dolar uang institusi akan masuk ke pasar kripto global. Efek dominonya, likuiditas ini akan mengerek naik harga aset kripto di seluruh dunia, sehingga portofoliomu di Indonesia ikut menikmati cuannya.
Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.
