BELIASET – Sempat memberikan harapan dengan reli ke angka $70.000 beberapa hari lalu, pasar kripto justru kembali dihantam realita pahit. Di pengujung pekan ini, Harga Bitcoin (BTC) terjun bebas menembus batas psikologis $67.000, mencatatkan titik terendahnya dalam dua minggu terakhir.
Bagi kamu investor muda, situasi saat ini adalah sebuah Big Deal yang membuktikan betapa rapuhnya mental pasar saat ini. Harapan bahwa jeda perang Amerika Serikat dan Iran akan segera berujung damai ternyata mulai memudar. Ketakutan ini memicu aksi jual beruntun (sell-off) yang tidak hanya menghancurkan harga di pasar spot, tetapi juga melikuidasi massal para spekulan yang terlalu optimis.
Dilansir dari CoinDesk, mari kita bedah indikator pasar derivatifnya dan mencari tahu koin mana saja yang paling terdampak oleh badai sentimen negatif ini!
Perang Bikin Minyak Mahal, Kripto dan Saham Ditinggal
Penurunan Harga Bitcoin ke level $66.310 (sekitar Rp1,12 miliar dengan asumsi kurs Rp16.979/USD) ternyata tidak terjadi sendirian. Aset-aset berisiko tinggi lainnya, baik di dunia kripto maupun tradisional, kompak memerah.
-
Indeks Top 20 Kripto (CD20) merosot 2,2%.
-
Ethereum (ETH) terseret turun mendekati level $2.000 (Rp33,9 juta).
-
Bursa saham AS (Nasdaq 100) anjlok 10% dari titik tertingginya di bulan Januari.
Penyebab utamanya jelas: ketakutan bahwa perang di Iran akan berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan. Hal ini dikonfirmasi oleh harga minyak mentah yang bandel bertengger di atas $100 (Rp1,6 juta) per barel. Minyak mahal berarti inflasi akan kembali mengamuk. Jika inflasi naik, Bank Sentral AS tidak akan menurunkan suku bunga, dan modal institusi akan terus menjauhi aset berisiko seperti kripto.
Derita “Long Trader”: Rp4,8 Triliun Menguap dalam Semalam
Sikap FOMO (ikut-ikutan karena takut ketinggalan) rupanya harus dibayar mahal oleh para trader di pasar derivatif (kontrak berjangka/futures).
Banyak trader yang terlalu percaya diri memasang posisi Long (bertaruh harga akan naik gila-gilaan karena sentimen damai Iran). Nyatanya, harga justru berbalik arah. Dalam 24 jam terakhir, posisi Long senilai nyaris $300 juta (sekitar Rp5 triliun) hangus terlikuidasi paksa oleh bursa! Angka ini berbanding jauh dari posisi Short (bertaruh harga turun) yang hanya rugi sekitar $50 juta (Rp848 miliar).
Di sisi lain, minat para pedagang untuk menebak harga turun (shorting) justru semakin besar. Data CoinDesk mencatat peningkatan taruhan penurunan harga (shorting interest) pada koin-koin seperti XRP, Solana, Dogecoin, dan bahkan Shiba Inu (SHIB).
Satu-satunya anomali yang melawan arus adalah token ONDO. Token ini sempat terbang lebih dari 8% setelah perusahaan manajemen asetnya (Ondo Finance) sepakat untuk menokenisasi (mengubah menjadi aset digital blockchain) lima reksa dana ETF milik raksasa keuangan Franklin Templeton.
Strategi Investor Indonesia di Era OJK 2026
Runtuhnya pasar derivatif yang memicu penurunan harga Bitcoin ini adalah pengingat keras bagi kita semua.
Peringatan OJK:
Memasuki era pengawasan penuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2026 ini, kami tak lelah mengingatkan bahwa trading menggunakan fitur leverage (utang/derivatif) sangat berbahaya, apalagi di masa ketidakpastian perang.
Saat institusi dan whales sedang merespons harga minyak dunia yang fluktuatif, investor ritel di Indonesia sering kali menjadi korban “likuidasi” karena modalnya tidak kuat menahan ayunan harga yang ekstrem. Jangan nekat menebak arah pasar. Kembalilah pada prinsip investasi fundamental. Gunakan “uang dingin” dan pastikan kamu hanya menyimpan atau bertransaksi aset digital melalui Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang sudah sah dan berizin di Tanah Air.
FAQ: Apa yang Harus Kamu Lakukan Sekarang?
Q: Mengapa Harga Bitcoin bisa langsung anjlok padahal beberapa hari lalu naik ke Rp1,13 Miliar?
A: Kenaikan beberapa hari lalu lebih banyak didorong oleh harapan atau spekulasi (Buy the Rumor) bahwa perang AS-Iran akan segera berakhir setelah ada jeda 5 hari. Ketika realita di lapangan menunjukkan bahwa perang masih alot dan harga minyak tetap mahal, investor yang kecewa langsung menjual asetnya (Sell the News).
Q: Apa maksudnya likuidasi posisi Long senilai Rp5 Triliun?
A: Trader posisi Long meminjam uang dari bursa untuk membeli Bitcoin, berharap harganya naik. Karena harga justru turun melebihi batas toleransi modal mereka, bursa secara otomatis menjual paksa (melikuidasi) Bitcoin mereka untuk menutupi utang. Aksi jual paksa massal inilah yang membuat harga semakin tertekan ke bawah.
Q: Indikator teknikal (RSI) dibilang masih netral, apa artinya?
A: RSI (Relative Strength Index) yang netral berarti pasar belum memasuki fase Oversold (terjual berlebihan). Ini mengindikasikan bahwa masih ada ruang untuk harga Bitcoin dan altcoin turun lebih dalam lagi sebelum mencapai titik dasar (bottom) dan memantul naik.
Q: Kapan waktu yang tepat untuk membeli Bitcoin lagi?
A: Jika kamu berinvestasi jangka panjang, berhentilah menebak titik terendah. Terapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) untuk mencicil pembelian tanpa harus memedulikan fluktuasi harian akibat berita geopolitik.
Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.
