BELIASET – Bersiaplah, angin segar kembali bertiup kencang di pasar kripto pada pertengahan Mei 2026 ini. Setelah sempat lesu, Harga Bitcoin (BTC) kini diproyeksikan bisa meroket hingga menembus level psikologis $100.000 (sekitar Rp1,7 miliar dengan asumsi kurs Rp17.490/USD) pada bulan Juni mendatang.
Bagi kamu investor muda di Tanah Air, momentum ini adalah sebuah Big Deal. Kenapa? Kenaikan kali ini bukan sekadar rumor tanpa dasar, melainkan dipicu oleh hukum dasar ekonomi: kelangkaan. Raksasa korporat besutan Michael Saylor, Strategy (MicroStrategy), diprediksi kembali menyedot pasokan Bitcoin di pasar dengan daya beli raksasanya.
Di saat yang bersamaan, data menunjukkan bahwa para investor mulai memindahkan “uang tunai” digital mereka (stablecoin) untuk memborong aset kripto. Kombinasi dari berkurangnya pasokan dan melonjaknya permintaan inilah yang menjadi fondasi kokoh untuk lonjakan harga.
Dilansir dari Cointelegraph, mari kita bedah dua katalis raksasa yang siap memompa pasar dan satu ancaman teknikal yang tetap harus kamu waspadai bulan ini!
Mesin Cetak Uang “Strategy” Kembali Menyala
Bahan bakar utama dari optimisme ini datang dari pulihnya nilai saham preferen milik perusahaan Strategy, yakni Stretch (STRC). Data dari STRC.LIVE menunjukkan bahwa saham ini berhasil kembali ke nilai nominal kritisnya di atas $100 per lembar.
Lalu, apa hubungannya dengan kripto? Ketika harga saham STRC berada di atas nilai wajarnya, model akumulasi perusahaan ini menjadi sangat efisien. Mereka bisa menerbitkan dan menjual saham baru secara agresif untuk mengumpulkan uang tunai, lalu menggunakan seluruh uang tersebut untuk memborong Bitcoin.
Analis memperkirakan bahwa manuver saham STRC ini akan membebaskan daya beli yang cukup bagi Strategy untuk menyerok setidaknya 3.127 BTC dalam minggu ini saja. Sebagai gambaran betapa gilanya angka tersebut: jumlah itu setara dengan 235% dari total Bitcoin baru yang berhasil ditambang pada periode yang sama. Artinya, mereka membeli jauh lebih cepat daripada Bitcoin yang bisa diproduksi!
Analis pasar Pio Vincenzo mencatat bahwa STRC telah berhasil menghimpun dana sebesar $5,58 miliar (sekitar Rp97,5 triliun) sejak Januari lalu, dan berpotensi meraup tambahan $20 miliar (Rp349 triliun) hingga akhir tahun. Sejak Februari hingga pertengahan Mei ini, total kepemilikan Bitcoin mereka telah membengkak dari 717.000 menjadi hampir 819.000 BTC.
Dominasi Stablecoin Merosot: Sinyal “Uang Nganggur” Mulai Belanja
Katalis positif kedua datang dari melemahnya dominasi stablecoin (koin kripto yang nilainya dipatok ke Dolar AS, seperti USDT dan USDC). Menurut analisis fraktal dari MikybullCrypto, dominasi kedua stablecoin raksasa ini mulai tertahan dan memuncak di zona resistensi 10%–11%.
Bagi yang belum tahu, saat dominasi stablecoin turun, itu berarti para trader mulai mencairkan Dolar digital mereka untuk membeli Bitcoin dan aset kripto lainnya (capital rotation).
Sejarah telah membuktikan keakuratan pola ini. Pada siklus 2022–2024, ketika dominasi stablecoin anjlok hampir 70%, Harga Bitcoin melesat naik hingga 600%. Tren serupa juga terjadi di tahun 2021. Rata-rata, penurunan dominasi stablecoin sebesar 61,3% selalu diikuti oleh reli Bitcoin sekitar 560%.
“Oleh karena itu, BTC memiliki peluang lebih tinggi untuk pembalikan arah (reversal) yang bullish secara berkelanjutan. Mencapai Rp1,6 miliar kuartal ini sepertinya sangat mungkin terjadi,” ujar MikybullCrypto.
Waspada “Tembok” Rp1,31 Miliar di Era OJK 2026
Namun, tidak ada gading yang tak retak. Di tengah euforia ini, ada satu rintangan teknikal yang mengadang.
Grafik harian menunjukkan bahwa Harga Bitcoin sedang mengalami kelelahan saat mendekati “tembok” Exponential Moving Average (EMA) 200-hari yang berada di kisaran $82.000 (sekitar Rp1,43 miliar). Jika gagal menembus atap ini, ada potensi harga justru akan terkoreksi tajam hingga ke bawah $70.000 (Rp1,22 miliar) di bulan Juni akibat pola rising wedge.
Catatan Pengawasan OJK:
Memasuki era pengawasan penuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2026, euforia target Rp1,6 miliar ini harus disikapi dengan kepala dingin.
Dinamika antara akumulasi institusi asing dan batas teknikal harian sering kali menciptakan volatilitas yang menjebak investor ritel pemula. Jangan pernah gunakan uang pinjaman (leverage) untuk mengejar tren. Terapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) agar nilaimu tetap stabil apa pun yang terjadi pada rintangan Rp1,31 miliar tersebut.
Terakhir, demi keamanan hukum dan finansialmu, pastikan selalu berinvestasi melalui platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang resmi berbadan hukum dan diawasi oleh Bappebti di Indonesia.
FAQ: Apa Dampaknya Berita Ini Buat Portofolio Kamu?
Q: Apa hubungannya penerbitan saham STRC milik Strategy dengan Harga Bitcoin?
A: Strategy (MicroStrategy) adalah perusahaan publik di AS. Ketika mereka menerbitkan dan menjual saham STRC mereka yang sedang naik daun, mereka mendapatkan miliaran Dolar uang segar. Uang tersebut kemudian dibelikan Bitcoin. Aksi borong institusi raksasa ini akan menyedot ketersediaan koin di bursa, yang pada akhirnya akan mendongkrak harga secara global.
Q: Kenapa turunnya dominasi stablecoin (USDT/USDC) itu pertanda baik?
A: Stablecoin ibarat “uang tunai nganggur” di dunia kripto. Jika persentase uang nganggur ini turun, artinya para investor mulai membelanjakan uang tersebut untuk membeli Bitcoin dan altcoin. Aliran dana masuk inilah yang membuat harga aset kripto merangkak naik.
Q: Apakah pasti Harga Bitcoin akan naik ke Rp1,7 Miliar di bulan Juni?
A: Tidak ada yang pasti di pasar finansial. Target Rp1,7 miliar adalah proyeksi berdasarkan fundamental masuknya dana institusi. Namun secara jangka pendek, Bitcoin harus mampu menjebol resistensi di angka Rp1,43 miliar terlebih dahulu. Jika gagal, harga justru rawan turun sementara ke angka Rp1,22 miliar.
Q: Apa yang harus dilakukan investor pemula sekarang?
A: Hindari FOMO (ikut-ikutan karena takut ketinggalan). Jika kamu belum punya aset, kamu bisa mulai menyicil (DCA) menggunakan uang dingin. Jika prediksi turun ke Rp1,22 miliar terjadi, itu justru bisa menjadi peluang bagus untuk menambah muatan di harga “diskon” sebelum harga benar-benar melesat ke Rp1,7 miliar.
Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.
