BELIASET – Pernahkah kamu membayangkan token kripto yang digadang-gadang punya masa depan cerah justru diobral murah oleh para investor besarnya? Fenomena mengejutkan sedang melanda pasar sekunder kripto.
Para pemodal ventura (VC) dan institusi besar dilaporkan sedang “buang barang” dengan menjual token-token yang masih terkunci (locked tokens) dengan diskon gila-gilaan yang menyentuh angka 90%!
Bagi kamu investor muda yang sering mengincar altcoin potensial, fenomena ini adalah sebuah Big Deal. Ketika institusi besar rela keluar dari sebuah proyek dengan kerugian atau diskon yang sangat masif, itu menandakan adanya krisis kepercayaan terhadap fundamental altcoin tersebut.
Tsunami suplai token baru yang membanjiri pasar ini berisiko menyedot likuiditas dari para investor ritel, yang secara tidak langsung bisa menghambat perputaran modal dan memberikan tekanan pada tren pemulihan Harga Bitcoin (BTC) secara makro.
Dilansir dari laporan eksklusif The Block, mari kita bongkar fakta di balik obral diskon token ini dan mengapa institusi lebih memilih kabur!
Fakta di Balik “Diskon 90%”: Wajar atau Krisis?
Kehebohan ini bermula ketika Santiago Roel Santos, pendiri firma ekuitas swasta kripto Inversion, mencuit bahwa rata-rata diskon di pasar sekunder kripto saat ini mencapai 90%. Padahal, secara historis, token yang masih dalam masa penguncian (vesting) biasanya hanya didiskon sekitar 60-70%.
Namun, apakah seluruh pasar benar-benar seburuk itu? Beberapa eksekutif platform perdagangan sekunder memberikan klarifikasi. Omar Shakeeb dari SecondLane menegaskan bahwa diskon 90% bukanlah norma pasar, melainkan kasus-kasus khusus untuk token yang perusahaannya sedang bermasalah (distressed cases).
Kenyataan di lapangannya:
-
Token dengan masa penguncian singkat (di bawah 12 bulan) rata-rata didiskon 40%.
-
Token dengan durasi menengah (13-24 bulan) didiskon sekitar 50%.
-
Token dengan penguncian panjang (di atas 36 bulan) adalah yang paling berdarah, dengan diskon melebar hingga 70-80% lebih.
Jonas Thiele dari platform OFFX menambahkan bahwa diskon semakin melebar di tahun 2026 ini karena para pembeli institusional tidak mau lagi mengambil risiko menahan token terlalu lama di tengah kondisi pasar yang tidak pasti.
4 Alasan Mengapa Institusi Ramai-Ramai “Kabur”
Mengapa fenomena obral token ini semakin parah di tahun ini? Ada empat alasan utama yang memicu krisis ini:
-
Tsunami Suplai vs Minim Permintaan: Menurut Jake Ostrovskis dari Wintermute, ada sekitar $500 juta hingga $1 miliar (setara Rp8,5 Triliun – Rp17 Triliun dengan asumsi kurs Rp17.030/USD) token baru yang terbuka (unlock) setiap minggunya. Sayangnya, pembeli barunya sangat sepi.
-
Uang Lari ke AI: Modal raksasa kini sedang bergeser. Uang yang dulunya masuk ke proyek kripto kini lebih banyak dialihkan ke sektor Kecerdasan Buatan (AI) atau aset dunia nyata yang lebih teregulasi.
-
Tokenomics yang “Serakah”: Proyek kripto era 2021-2023 sering kali menjebak. Nilai perusahaannya triliunan, tapi token yang beredar sangat sedikit (low float). Buruknya lagi, pendapatan proyek sering kali masuk ke kantong perusahaan (developer), bukan ke pemegang token. Hal ini membuat nilai token tidak mencerminkan kesuksesan aplikasinya.
-
Beralih ke Saham (Ekuitas): Investor raksasa kini lebih memilih membeli saham kepemilikan perusahaannya langsung ketimbang membeli tokennya. Ekuitas perusahaan kripto kini menyumbang 40% dari total minat di pasar sekunder, karena dianggap lebih aman dan punya jalur keuntungan yang jelas.
Era OJK 2026: Jangan Mau Jadi “Exit Liquidity”
Melihat para institusi saling sikut untuk keluar dari altcoin, investor ritel di Indonesia harus sangat waspada.
Peringatan OJK:
Memasuki era pengawasan penuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di tahun 2026, kematangan dalam menyeleksi aset digital adalah hal yang mutlak.
Obral token di pasar sekunder ini adalah alarm keras. Jangan mudah tergoda (FOMO) membeli altcoin baru hanya karena harganya terlihat “murah” atau sedang tren. Sangat mungkin kamu hanya menjadi exit liquidity (pembeli terakhir) bagi para pemodal ventura yang sedang membuang barangnya.
CEO Acquire.Fi memperkirakan bahwa diskon ini mungkin baru akan mereda di paruh kedua tahun ini, jika kondisi makro membaik dan Harga Bitcoin kembali memimpin reli pasar. Oleh karena itu, amankan uangmu dengan fokus pada aset fundamental yang sudah jelas utilitasnya, dan pastikan transaksimu hanya dilakukan melalui Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang resmi berizin di Indonesia.
FAQ: Apa Dampaknya Berita Ini Buat Portofolio Kamu?
Q: Apa itu pasar sekunder (secondary market) di kripto?
A: Pasar sekunder adalah tempat di mana para investor awal (seperti pemodal ventura atau karyawan proyek kripto) menjual token mereka yang masih dalam masa “dikunci” (vested) kepada pembeli besar lainnya, biasanya dilakukan di luar bursa publik (Over-the-Counter/OTC) sebelum token tersebut bebas dijual ke pasar ritel.
Q: Kenapa institusi rela jual token rugi/diskon sampai 80%?
A: Daripada uang mereka tertahan 3-4 tahun pada proyek yang fundamentalnya makin tidak jelas atau kalah saing, mereka lebih memilih menjualnya dengan harga diskon besar agar mendapatkan uang tunai (likuiditas) hari ini untuk diinvestasikan ke sektor lain yang lebih menguntungkan, seperti AI.
Q: Apakah fenomena obral altcoin ini memengaruhi Harga Bitcoin?
A: Secara tidak langsung, ya. Ketika uang triliunan Rupiah dari institusi terjebak atau hangus di altcoin yang buruk, likuiditas pasar secara keseluruhan mengering. Akibatnya, daya beli global menurun, yang bisa memperlambat laju Harga Bitcoin untuk menembus rekor tertinggi baru.
Q: Token seperti apa yang harus saya hindari sekarang?
A: Hindari koin-koin baru yang kapitalisasi pasar beredarnya sangat kecil tapi valuasi totalnya (FDV) raksasa, proyek yang tidak membagikan keuntungan protokol kepada pemegang token, dan koin yang memiliki jadwal pembukaan kunci (unlock) jutaan token dalam waktu dekat.
Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.
