Harga Bitcoin Jebol ke Rp1,15 Miliar! Negara Ini Malah “Buang Barang” Rp358 Miliar, Sinyal Bahaya?

BELIASET – Portofolio kripto kamu kembali “kebakaran” hari ini? Jangan heran, tekanan jual di pasar global memang sedang tinggi-tingginya. Harga Bitcoin (BTC) kembali terperosok ke kisaran $72.000 atau setara Rp1,15 miliar (kurs estimasi Rp16.000/USD).

Yang mengejutkan, salah satu kontributor tekanan jual ini ternyata datang dari sebuah negara kecil di Himalaya yang diam-diam menjadi “Paus Bitcoin”: Bhutan.

Dilansir dari CryptoSlate, pemerintah Bhutan melalui sayap investasinya terpantau kembali melakukan aksi jual (profit taking) di tengah penurunan harga ini. Apakah ini tanda kepanikan atau sekadar strategi negara? Dan sampai mana harga akan turun? Yuk, kita bedah datanya!

Bhutan “Cairkan” Rp358 Miliar, Rutin Jualan?

Data on-chain dari firma analitik Arkham mengungkapkan bahwa Bhutan baru saja memindahkan Bitcoin senilai $22,4 juta atau sekitar Rp358,4 miliar dari dompet digital mereka minggu ini.

Salah satu transfer tersebut mengarah langsung ke QCP Capital, sebuah perusahaan market maker besar. Ini mengindikasikan bahwa koin tersebut kemungkinan besar dijual untuk likuiditas tunai.

Fakta Menarik:

Bhutan bukan pemain baru. Mereka sudah menambang Bitcoin sejak 2019 dengan memanfaatkan energi hidroelektrik pegunungan.

  • Estimasi Profit: Bhutan diperkirakan telah meraup keuntungan $765 juta (Rp12,2 triliun) dari mining.

  • Pola Penjualan: Penjualan minggu ini adalah bagian dari pola rutin. Sebelumnya di September 2025, mereka juga tercatat melakukan penjualan bertahap senilai $50 juta.

Jadi, bagi mereka, ini mungkin sekadar “gajian” dari hasil tambang, bukan panic selling. Namun, bagi pasar yang sedang sensitif, aksi ini tetap menambah beban tekanan jual.

Bayang-Bayang Siklus 4 Tahunan: Dejavu 2022?

Penurunan Harga Bitcoin yang mencapai 40% dari puncaknya di Oktober lalu mulai membuat investor gelisah. Banyak yang bertanya: “Apakah kita sedang mengulang siklus Crypto Winter 2018 atau 2022?”

Kepala Riset K33 Research, Vetle Lunde, mengakui ada kemiripan pola yang meresahkan. Psikologi pasar saat ini menunjukkan pemegang jangka panjang mulai mengurangi posisi, sementara modal baru ragu-ragu untuk masuk.

Namun, Lunde menegaskan ada perbedaan fundamental besar di tahun 2026 ini:

  1. Adopsi Institusi: Pasar kini didukung oleh ETF dan institusi legal, bukan spekulan liar semata.

  2. Tidak Ada “Forced Deleveraging”: Di tahun 2022, harga hancur karena platform besar (seperti FTX/Celsius) bangkrut dan dipaksa jual aset. Saat ini, struktur pasar jauh lebih sehat tanpa utang sistemik yang berlebihan.

Perspektif OJK:

Di Indonesia, pengawasan ketat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap bursa kripto (PFAK) juga memberikan lapisan keamanan tambahan. Risiko yang kita hadapi saat ini murni risiko pasar (volatilitas harga), bukan risiko kegagalan platform (exchange failure) seperti di masa lalu.

Waspada Level Kritis: Rp1,1 Miliar Jadi Penentu

Secara teknikal, kita sedang berada di zona bahaya. Level $74.000 yang sebelumnya menjadi bantalan, kini sedang diuji hebat.

Menurut analisis K33, jika Harga Bitcoin gagal bertahan di level saat ini ($72.000), target penurunan selanjutnya cukup menyeramkan:

  • Support 1: $69.000 (Sekitar Rp1,1 miliar).

  • Support 2: $58.000 (Sekitar Rp928 juta), yang merupakan garis rata-rata pergerakan 200 minggu (200-week MA).

Meskipun indikator derivatif (seperti funding rates negatif) menunjukkan potensi pembalikan arah (reversal), namun sinyal tersebut belum terkonfirmasi kuat.

Level Rp1,1 miliar ($69.000) ini ibarat ‘garis pertahanan terakhir’ bagi mental para investor. Pasalnya, angka ini adalah titik tertinggi sepanjang masa (All Time High) pada siklus tahun 2021 lalu yang kini berubah fungsi menjadi lantai pijakan.

Jika harga penutupan harian (daily close) jebol di bawah angka ini, kepanikan ritel bisa memicu gelombang likuidasi baru yang mempercepat penurunan. Jadi, bagi kamu yang berniat menambah muatan, perhatikan dulu apakah ada pantulan kuat atau justru volume jual yang makin deras di area ini.

FAQ: Pertanyaan Seputar Aksi Jual Bhutan & Harga Bitcoin

Q: Kenapa Bhutan menjual Bitcoin mereka?
A: Kemungkinan besar untuk merealisasikan keuntungan (profit taking) guna membiayai operasional negara atau biaya energi mining yang meningkat pasca-halving. Ini strategi manajemen aset negara yang wajar.

Q: Apakah harga Bitcoin akan turun ke bawah Rp1 Miliar?
A: Risiko itu ada. Jika level $69.000 ditembus dengan volume besar, target teknikal berikutnya adalah area $58.000 (di bawah Rp1 Miliar).

Q: Apakah ini saat yang tepat untuk beli?
A: Pasar sedang sangat volatil. Membeli saat harga jatuh (catching a falling knife) berisiko tinggi. Strategi Dollar Cost Averaging (cicil) lebih disarankan daripada All-in sekarang.

Q: Apa bedanya kondisi sekarang dengan crash 2022?
A: Tahun 2022 didorong oleh kebangkrutan platform besar. Tahun 2026 lebih didorong oleh faktor makroekonomi (suku bunga, geopolitik) dan siklus pasar normal. Fondasi industri saat ini lebih kuat.

Q: Apa yang harus dilakukan jika saya sudah terlanjur beli di harga tinggi?
A: Evaluasi profil risiko kamu. Jika kamu investor jangka panjang (>2 tahun), koreksi ini adalah kebisingan sementara. Namun jika kamu trader, disiplin dengan Stop Loss adalah kunci bertahan hidup.

Disclaimer & Peringatan Risiko:

Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.

What's your reaction?
Happy0
Lol0
Wow0
Wtf0
Sad0
Angry0
Rip0
Leave a Comment