BELIASET – Harapan investor untuk melihat pemulihan cepat (V-shape recovery) tampaknya harus ditahan dulu. Upaya Harga Bitcoin (BTC) untuk bangkit dari keterpurukan minggu lalu kini terbentur tembok tebal di level $71.000 atau sekitar Rp1,13 miliar (kurs estimasi Rp16.000/USD).
Meskipun sempat hijau sebentar di akhir pekan, momentum kenaikan ini mulai kehabisan bensin. Para trader dan analis kini mulai khawatir bahwa kenaikan ini hanyalah “Dead Cat Bounce”—sebuah pantulan semu sebelum harga jatuh lebih dalam.
Data menunjukkan bahwa partisipasi investor ritel (seperti kamu) mulai memudar, dan sentimen pasar sedang berada di titik paling menakutkan sejak era kejatuhan bursa FTX tahun 2022. Apa yang sebenarnya terjadi? Yuk, kita bedah situasinya!
Tembok Penghalang: Banyak yang Mau “Keluar”
Dilansir dari CoinDesk, kenaikan harga Bitcoin yang terhenti di Rp1,13 Miliar ini bukanlah kebetulan. Alex Kuptsikevich, analis pasar senior dari FxPro, menjelaskan bahwa ada tumpukan suplai yang besar di level ini.
Sederhananya, banyak investor yang sebelumnya “nyangkut” di harga atas, memanfaatkan kenaikan sesaat ini untuk jual rugi (cut loss) atau balik modal (break even) dan keluar dari pasar.
“Masih ada pasokan besar di pasar dari mereka yang ingin keluar dari aset kripto ini saat terjadi rebound,” ujar Kuptsikevich. Ia memperingatkan bahwa kita harus bersiap menghadapi ujian ulang (retest) terhadap garis rata-rata pergerakan 200 minggu (200-week MA) dalam waktu dekat.
Pasar Sepi, Retail Mulai “Lelah”
Masalah lain yang tak kalah serius adalah likuiditas yang mengering. Data dari firma analitik Kaiko menunjukkan penurunan aktivitas perdagangan yang signifikan.
-
Volume Spot Anjlok: Volume transaksi di bursa utama turun sekitar 30% sejak akhir 2025.
-
Retail Kabur: Penurunan volume ini menandakan bahwa investor ritel perlahan meninggalkan pasar, bukan karena dipaksa keluar (capitulation), tapi karena kehilangan minat.
Apa bahayanya pasar yang sepi?
Ketika likuiditas tipis (order book kosong), tekanan jual yang sedikit saja bisa membuat harga bergejolak hebat. Ini menciptakan feedback loop negatif di mana harga bisa naik-turun ribuan dolar dalam satu sesi tanpa arah yang jelas, membuat trading menjadi sangat berisiko.
Sentimen “Extreme Fear”: Dejavu 2022
Indikator psikologis Crypto Fear and Greed Index juga memberikan sinyal lampu merah.
-
Skor sempat menyentuh angka 6 di akhir pekan (Sangat Ekstrem).
-
Kini berada di angka 14 (Masih Extreme Fear).
Level ketakutan ini setara dengan kondisi saat bursa FTX bangkrut di tahun 2022. Menurut analis, angka ini terlalu rendah untuk memicu aksi beli yang percaya diri. Pasar masih dalam mode “Jual dulu, tanya belakangan”.
Peringatan OJK:
Dalam kondisi pasar yang “tipis” dan penuh ketakutan ini, volatilitas harga bisa sangat liar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selalu menyarankan investor untuk tidak menggunakan dana pinjaman (leverage) dalam bertransaksi. Risiko likuidasi sangat tinggi saat pasar tidak likuid. Pastikan kamu hanya berinvestasi melalui Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) resmi dan gunakan uang dingin.
Waspada Level Kritis Rp960 Juta
Secara teknikal, Bitcoin saat ini sudah terkoreksi lebih dari 50% dari harga tertingginya di akhir 2025/awal 2026 ($126.000).
Kunci pertahanan terakhir ada di area $60.000 (Rp960 juta).
-
Skenario Optimis: Pembeli mempertahankan area Rp960 juta, dan pasar bergerak menyamping (konsolidasi) untuk waktu yang lama.
-
Skenario Pesimis: Jika level ini jebol karena makroekonomi memburuk, dinamika likuiditas tipis bisa mempercepat penurunan ke level yang lebih dalam.
FAQ: Pertanyaan Seputar Kondisi Pasar Bitcoin
Q: Kenapa Harga Bitcoin susah naik di atas Rp1,13 Miliar?
A: Karena banyak investor yang “trauma” dan memilih menjual aset mereka saat harga naik sedikit (sell on strength) untuk mengamankan sisa modal, menciptakan tembok resistensi yang kuat.
Q: Apa itu “Dead Cat Bounce”?
A: Istilah pasar untuk kenaikan harga sementara/kecil dalam tren penurunan jangka panjang. Dinamakan demikian karena “bahkan kucing mati pun akan memantul sedikit jika dijatuhkan dari tempat yang sangat tinggi.”
Q: Apakah aman masuk pasar saat volume transaksi rendah?
A: Berisiko tinggi. Volume rendah berarti pasar mudah dimanipulasi atau bergerak liar karena sedikit saja pesanan besar bisa menggerakkan harga secara drastis.
Q: Apakah Harga Bitcoin akan kembali ke Rp2 Miliar ($126k)?
A: Secara historis, Bitcoin selalu pulih dan mencetak rekor baru. Namun, dalam siklus bear market, proses pemulihan dasar (bottoming) bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Q: Apa yang harus dilakukan investor pemula?
A: Jangan mencoba menebak dasar harga (timing the market). Fokus pada akumulasi jangka panjang dengan nominal kecil (DCA) atau wait and see sampai volume perdagangan kembali pulih.
Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.
