BELIASET– Pergerakan harga Bitcoin kembali menemui jalan terjal di awal pekan ini. Aset kripto terbesar di dunia tersebut gagal menembus level psikologis $92.000 (sekitar Rp1,46 miliar) setelah sentimen geopolitik memanas akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai tarif dagang.
Meskipun Bitcoin mengalami stagnasi, anomali menarik terjadi di sektor lain: token berbasis privasi (privacy coins) dan saham perusahaan penambang kripto (miners) justru mencatatkan kenaikan signifikan. Apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dampaknya bagi portofolio investor di Indonesia?
Sentimen Tarif Trump Tahan Laju Bitcoin
Dilansir dari laporan CoinDesk (13/1/2026), Bitcoin (BTC) sempat tergelincir ke bawah level $91.000. Tekanan jual ini dipicu oleh postingan media sosial Donald Trump yang menyatakan akan memberlakukan tarif 25% terhadap negara mana pun yang melakukan perdagangan dengan Iran.
“Mulai saat ini, negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenakan tarif 25% atas semua bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat,” tegas Trump.
Bagi investor aset digital, ketidakpastian geopolitik ini menciptakan sikap wait and see. Pasar merespons dengan hati-hati, khawatir kebijakan ini akan memicu perang dagang baru yang memperkuat Dolar AS dan menekan aset berisiko seperti kripto.
[Link ke: Analisis Dampak Kebijakan Trump Terhadap Aset Kripto 2026]
Anomali Pasar: Koin Privasi Melawan Arus
Di tengah datarnya pergerakan Bitcoin dan Ethereum (ETH), token yang masuk dalam kategori Privacy Coinsjustru menjadi primadona pasar hari ini.
-
Monero (XMR): Melonjak 15% menembus level $600.
-
Zcash (ZEC): Naik 7%.
-
Railgun (RAIL): Meroket lebih dari 30%.
Kenaikan ini terjadi meskipun regulator global semakin ketat, seperti Dubai yang baru saja melarang perdagangan koin privasi di bursa mereka.
Apa Itu Koin Privasi dan Mengapa Harganya Naik?
Bagi investor pemula, mungkin bertanya-tanya: Apa bedanya Bitcoin dengan Koin Privasi sehingga harganya bisa naik saat pasar lesu?
Secara sederhana, Bitcoin (BTC) memiliki buku besar (blockchain) yang transparan. Siapa pun bisa melihat alamat dompet pengirim, penerima, dan jumlah saldo yang tersimpan, meskipun nama pemilik aslinya tidak tertera. Ini membuat Bitcoin bersifat pseudonim, bukan anonim sepenuhnya.
Sebaliknya, Koin Privasi (Privacy Coins) didesain khusus menggunakan teknologi kriptografi canggih (seperti Ring Signatures pada Monero atau zk-SNARKs pada Zcash) dengan tiga fitur utama:
-
Menyembunyikan Identitas: Alamat pengirim dan penerima diacak atau disembunyikan.
-
Menyembunyikan Nominal: Jumlah transaksi tidak terlihat oleh publik di blockchain.
-
Fungibility (Kesepadanan): Karena sejarah transaksinya tidak bisa dilacak, satu koin tidak bisa dibedakan dari koin lain (tidak ada istilah koin “bersih” atau koin “bekas kejahatan”).
Lonjakan harga saat ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengetatan aturan pemerintah global, sebagian investor kembali mencari aset yang menawarkan kebebasan privasi finansial sepenuhnya sebagai bentuk lindung nilai (hedging).
Meta AI Dorong Saham Mining
Selain koin privasi, kabar baik datang dari sektor infrastruktur. Raksasa media sosial, Meta, baru saja mengumumkan inisiatif “Meta Compute” untuk membangun infrastruktur AI berskala besar.
Pengumuman ini menjadi katalis positif bagi saham-saham penambang kripto yang kini mulai beralih fungsi menyewakan data center mereka untuk kebutuhan AI (High-Performance Computing).
-
Iren (IREN): Naik hampir 10%.
-
Bitfarms (BITF), Riot Platforms (RIOT), & Bitdeer (BTDR): Naik di kisaran 6–8%.
Bagi investor saham AS asal Indonesia, ini adalah sinyal bahwa diversifikasi penambang Bitcoin ke sektor AI mulai membuahkan hasil nyata pada valuasi saham mereka.
Analisis Teknis: Tembok Tebal di Rp1,5 Miliar
Kembali ke Bitcoin, analis dari Bitfinex mencatat bahwa harga sedang menghadapi “zona suplai yang padat” di rentang $93.500 hingga $95.000 (sekitar Rp1,48 miliar – Rp1,51 miliar).
“Sampai suplai di area ini habis terjual, pasar kemungkinan akan tetap range-bound (bergerak menyamping). Minat risiko perlu dibangun kembali secara bertahap,” tulis laporan tersebut.
Ditambah lagi, ketegangan makroekonomi di AS juga meningkat setelah Ketua The Fed, Jerome Powell, mengonfirmasi adanya penyelidikan kriminal terhadap dirinya, memperuncing konflik antara Bank Sentral dan administrasi Trump. Hal ini turut mendorong harga emas dan perak ke rekor tertinggi baru.
FAQ: Pertanyaan Seputar Kondisi Pasar & Koin Privasi
Q: Mengapa harga Bitcoin sulit naik meski ada berita positif adopsi AI?
A: Faktor makroekonomi saat ini lebih dominan. Ancaman tarif dagang dari Trump menciptakan ketidakpastian global, membuat investor institusi menahan diri untuk melakukan pembelian besar di level harga tinggi.
Q: Apakah aman berinvestasi di Koin Privasi (Privacy Coins) untuk jangka panjang?
A: Secara teknologi, koin privasi menawarkan keamanan data yang kuat. Namun, secara investasi, risikonya tinggi karena tekanan regulasi. Jika pemerintah melarang total, likuiditas akan kering dan harga bisa jatuh karena sulit dicairkan ke Rupiah.
Q: Apa dampak kasus Jerome Powell terhadap Kripto?
A: Konflik antara Pemerintah AS (Trump) dan The Fed (Powell) bisa memicu volatilitas Dolar AS. Jika Dolar melemah karena ketidakstabilan politik, biasanya aset seperti Emas dan Bitcoin akan diuntungkan dalam jangka panjang, namun jangka pendek bisa terjadi fluktuasi tajam.
Q: Kapan Bitcoin diprediksi akan bullish lagi?
A: Menurut analis LMAX, level kunci yang harus ditembus adalah $95.000 untuk Bitcoin dan $3.500 untuk Ethereum. Jika level ini terlewati dengan volume tinggi, tren kenaikan baru kemungkinan akan dimulai.
“Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.”
