BELIASET– Apakah badai jual (sell-off) yang menghantam pasar kripto akhirnya mulai kehabisan tenaga? Ada secercah harapan bagi kamu yang portofolionya sedang merah merona.
Setelah minggu lalu Harga Bitcoin (BTC) tertekan hebat hingga ke level terendah sejak kemenangan pemilu Donald Trump, awal pekan ini pasar menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran $69.600 atau setara Rp1,11 miliar (kurs estimasi Rp16.000/USD).
Meskipun harga masih terkoreksi sekitar 44% dari rekor tertingginya di Oktober 2025 ($126.000 atau Rp2 Miliar), data on-chain terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan: Di saat ritel panik jual, para “Paus” (investor besar) justru sedang sibuk menyerok barang murah.
“Paus” Makan Besar: Rp60 Triliun Masuk Diam-diam
Dilansir dari Decrypt, data dari CryptoQuant menunjukkan aktivitas akumulasi yang masif.
Selama penurunan harga minggu lalu, alamat dompet kategori “Accumulation Addresses” (dompet yang hanya membeli dan tidak pernah menjual) memborong total 54.458 BTC.
Jika dikonversi ke Rupiah, nilai pembelian tersebut mencapai angka fantastis: sekitar Rp60,9 triliun!
Apa artinya?
Ini adalah pertarungan klasik antara “Tangan Lemah” (Weak Hands) alias investor ritel yang panik, melawan “Tangan Kuat” (Strong Hands) alias institusi yang memanfaatkan diskon. Masuknya uang triliunan Rupiah ini menjadi bantalan (buffer) yang mencegah harga jatuh lebih dalam.
Penjual Mulai “Lelah”, Tapi Belum Tentu Naik
Selain aksi beli Paus, indikator teknikal lain menunjukkan bahwa penjual mulai kehabisan amunisi.
-
Spot CVD Negatif: Indikator Cumulative Volume Delta berada di angka minus $327 juta. Secara historis, angka negatif sedalam ini menandakan seller exhaustion (penjual sudah capek), bukan awal dari penjualan baru.
-
Pemegang Rugi Enggan Jual: Data Glassnode menunjukkan hanya 55% suplai Bitcoin yang dalam posisi untung (in profit). Artinya, hampir separuh pemegang Bitcoin sedang “nyangkut”. Biasanya, orang yang nyangkut cenderung menahan aset (HODL) daripada jual rugi, sehingga tekanan jual berkurang.
Meski begitu, Tim Sun dari HashKey Group memperingatkan:
“Akumulasi Paus memang menstabilkan harga, tapi itu bukan jaminan pembalikan tren (reversal) seketika.”
Nasib Harga Bitcoin di Tangan Institusi AS
Kunci pemulihan pasar saat ini ada di Amerika Serikat. Indikator Coinbase Premium Index (selisih harga di Coinbase AS vs Binance Global) terpantau melonjak 70%.
Ini sinyal positif bahwa investor institusi AS mulai kembali berminat. Jeff Mei, COO BTSE, menegaskan bahwa karena kepemilikan Bitcoin saat ini didominasi institusi, pergerakan harga ke depan 100% bergantung pada apakah mereka akan terus membeli atau tidak.
Peringatan OJK:
Meskipun Paus sedang belanja, investor ritel Indonesia harus tetap waspada. Volatilitas pasar masih dipengaruhi ketidakpastian regulasi dan likuiditas global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyarankan untuk tidak sekadar ikut-ikutan (FOMO) langkah Paus tanpa strategi manajemen risiko yang jelas. Gunakan fitur Limit Order di Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) terdaftar untuk mendapatkan harga beli yang sesuai targetmu, jangan Market Order saat harga sedang liar.
FAQ: Pertanyaan Seputar Aksi Serok Paus
Q: Apakah Harga Bitcoin akan langsung naik setelah Paus beli?
A: Tidak selalu. Paus membeli untuk jangka panjang (tahunan). Harga bisa saja stagnan (sideways) atau turun sedikit lagi dalam jangka pendek sebelum benar-benar naik (reversal).
Q: Apa itu “Accumulation Address”?
A: Ini adalah alamat dompet kripto yang memiliki rekam jejak hanya menerima (membeli) Bitcoin dan belum pernah melakukan pengiriman keluar (menjual). Ini sering dianggap sebagai dompet “Smart Money” atau investor jangka panjang.
Q: Apakah pasar Bearish sudah berakhir?
A: Terlalu dini untuk menyimpulkan. Meskipun tekanan jual mereda, kita butuh katalis positif (seperti kebijakan The Fed atau regulasi stablecoin) untuk mengonfirmasi akhir tren turun.
Q: Apakah aman ikut beli sekarang?
A: Jika kamu investor jangka panjang (>2 tahun), level harga saat ini (diskon 44% dari ATH) dianggap area akumulasi yang menarik secara historis. Namun, tetap gunakan metode cicil (DCA).
Q: Kenapa institusi sangat berpengaruh?
A: Di tahun 2026 ini, volume perdagangan didominasi ETF dan dana pensiun, bukan lagi trader ritel perorangan seperti tahun 2017 atau 2021. Jadi, “mood” institusi menentukan arah pasar.
Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.
