Bos Ripple Bongkar 3 Alasan XRP Kalahkan Stablecoin, Apakah Menjadi Sinyal Positif Buat Harga Bitcoin?

BELIHAPE – Di saat mata sebagian besar investor ritel hanya tertuju pada fluktuasi Harga Bitcoin (BTC), ada pertarungan teknologi diam-diam yang sedang mengubah sistem keuangan global.

David Schwartz, Chief Technology Officer (CTO) Emeritus di Ripple, baru saja membedah secara terang-terangan mengapa koin XRP memiliki tiga keunggulan mutlak dibandingkan stablecoin (kripto bernilai stabil seperti USDT atau USDC).

Bagi kamu investor muda yang sedang menyusun portofolio kripto, wawasan ini adalah sebuah Big Deal. Memahami perbedaan mendasar antara aset kripto yang dirancang untuk stabilitas harga (stablecoin) dan aset yang dirancang untuk utilitas lintas batas (XRP) sangatlah penting.

Menariknya, inovasi dan kemitraan raksasa yang sedang dibangun Ripple ini berpotensi membawa sentimen positif (bullish) bagi seluruh ekosistem kripto, yang ujung-ujungnya dapat menjadi angin segar pendongkrak Harga Bitcoin dan altcoin lainnya.

Dilansir dari CoinGape, mari kita bedah tiga alasan utama mengapa bos Ripple sangat menjagokan XRP, dan apa dampaknya bagi strategi investasimu!

1. Jembatan Lintas Negara Tanpa Batas Fiat

Kelemahan terbesar stablecoin saat ini adalah sifatnya yang “diikat” pada satu mata uang fiat (uang negara) tertentu. Sebuah stablecoin dolar AS (seperti USDC) hanya melacak nilai dolar AS.

Menurut Schwartz, hal ini kurang efisien untuk transaksi global. Jika kamu ingin mengirim uang dari Jepang ke Korea Selatan, kamu mungkin kesulitan mencari pasangan stablecoin langsung untuk mata uang tersebut.

Sebaliknya, XRP bertindak sebagai “jembatan netral”. Ia tidak terikat pada dolar, yen, ataupun rupiah. Kamu bisa menukarkan mata uang apa pun menjadi XRP, mengirimkannya ke ujung dunia dalam hitungan detik, dan mencairkannya lagi ke mata uang lokal tujuan.

Fleksibilitas tanpa batas inilah yang membuat XRP kini sedang dikaji secara serius untuk pembayaran remitansi (pengiriman uang pekerja migran) antara Jepang dan Korea Selatan.

2. Bebas Sensor dan Blokir Tiba-Tiba

Pernah dengar dompet kripto tiba-tiba diblokir? Nah, Schwartz menyoroti masalah kendali atau sentralisasi di dalam stablecoin.

Perusahaan penerbit stablecoin adalah entitas teregulasi yang wajib mematuhi perintah pengadilan atau hukum negara tertentu. Artinya, mereka punya “tombol” untuk membekukan dana atau membatalkan transaksi penggunanya secara sepihak. Ini menimbulkan counterparty risk (risiko pihak ketiga).

Sebaliknya, transaksi XRP berjalan di atas jaringan terdesentralisasi (XRP Ledger). Transaksinya bersifat final, tidak ada otoritas pusat yang bisa memblokir, membatalkan, atau menyensor transaksi pengiriman lintas negara yang sudah terjadi. Sifat ini sangat kental dengan etos asli aset kripto, persis seperti ketahanan sensor yang dimiliki oleh Bitcoin.

3. Potensi Cuan dari Kenaikan Harga

Ini adalah perbedaan yang paling disukai oleh para investor. Stablecoin diciptakan untuk memiliki nilai yang tetap (1 USDT = 1 Dolar AS). Kamu tidak akan mungkin menjadi kaya hanya dari menyimpan stablecoin, karena nilainya tidak akan pernah terapresiasi (naik).

Sementara itu, koin XRP adalah aset kripto yang harganya bergerak secara bebas di pasar. Jika adopsi dan permintaannya meningkat, harga koinnya akan ikut terbang. Bagi institusi yang melakukan penyimpanan kekayaan jangka panjang (kustodian) atau menyelesaikan transaksi massal, menggunakan aset yang memiliki potensi pertumbuhan nilai tentu jauh lebih menggiurkan.

Hebatnya lagi, untuk menjawab kebutuhan pasar akan kestabilan, Ripple kini merilis stablecoin mereka sendiri bernama RLUSD. Keduanya (XRP dan RLUSD) digabungkan dalam sistem manajemen perbendaharaan Ripple untuk melayani pembayaran digital maupun perbankan tradisional. Puncaknya, Ripple resmi bergabung dengan program Mitra Bersertifikat SWIFT—jaringan pesan keuangan terbesar antarbank sedunia!

Konteks Era OJK 2026: Pelajaran Buat Investor Lokal

Melihat adopsi teknologi Ripple yang kini siap bersanding dengan jaringan bank internasional (SWIFT), investor di Indonesia harus pintar membaca situasi.

Peringatan OJK:

Memasuki era pengawasan penuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2026, regulasi di Indonesia sangat tegas mengenai fungsi kripto.

Ingatlah bahwa XRP, Bitcoin, maupun Stablecoin berstatus sebagai “Aset/Komoditas”, bukan alat pembayaran sah di dalam negeri. Kamu tidak bisa menggunakan XRP untuk membeli kopi di Jakarta. Namun, teknologi remitansi (pengiriman uang lintas batas) yang ditawarkan Ripple sangat relevan bagi perkembangan infrastruktur keuangan masa depan. Sebagai investor Milenial dan Gen Z, kamu bisa memanfaatkan potensi kenaikan harga aset ini secara legal. Pastikan kamu selalu membeli dan menyimpan kriptomu melalui platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang sudah resmi terdaftar dan diawasi OJK agar transaksimu terjamin keamanannya.

FAQ: Apa Dampaknya Berita Ini Buat Portofolio Kamu?

Q: Apa dampaknya bagi saya melihat XRP bisa jadi jembatan antarbank?
A: Ini membuktikan bahwa utilitas (nilai guna) koin altcoin seperti XRP benar-benar nyata di dunia institusional (TradFi). Jika bank-bank global mulai menggunakan XRP via SWIFT, volume transaksi dan permintaannya akan meledak, yang secara teori akan mendongkrak harga koin tersebut di bursa tempat kamu berinvestasi.

Q: Apakah berarti saya harus menukar semua Stablecoin saya menjadi XRP?
A: Tidak! Sesuai kata David Schwartz, XRP dan Stablecoin melayani fungsi yang berbeda. Gunakan Stablecoin untuk mengamankan nilai uangmu dari fluktuasi pasar (saat sedang tidak trading). Gunakan XRP (atau koin lain) sebagai aset investasi yang kamu harapkan harganya akan naik di masa depan.

Q: Jika XRP sukses besar, apakah Harga Bitcoin bisa terancam?
A: Tidak. Keduanya memiliki fungsi yang jauh berbeda. Bitcoin saat ini lebih berfungsi sebagai “Emas Digital” (penyimpan nilai lindung nilai terhadap inflasi), sedangkan XRP lebih berfungsi sebagai “Uang Pelumas” untuk memindahkan dana bank secara instan. Kesuksesan XRP justru akan membawa lebih banyak kepercayaan institusi ke pasar kripto, yang hampir pasti akan menguntungkan Bitcoin juga.

Q: Apa yang harus dilakukan investor merespons berita Ripple masuk SWIFT?
A: Jangan mengambil keputusan impulsif (FOMO). Meskipun sentimen fundamentalnya sangat luar biasa (bullish), harga aset kripto selalu fluktuatif dalam jangka pendek. Tetap gunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) untuk mencicil kepemilikan aset berfundamental kuat secara rutin menggunakan “uang dingin”.

Disclaimer & Peringatan Risiko:

Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.

What's your reaction?
Happy0
Lol0
Wow0
Wtf0
Sad0
Angry0
Rip0
Leave a Comment