BELIASET – Jumat (13/2/2026) ini menjadi hari yang cukup kelabu bagi portofolio investor aset kripto. Tekanan jual dari institusi global semakin deras, memaksa Harga Bitcoin (BTC) tergelincir turun menembus level psikologisnya.
Berdasarkan data pasar terbaru, Bitcoin kini diperdagangkan di kisaran $65.266 atau setara Rp1,09 miliar (kurs estimasi Rp16.000/USD). Angka ini menandai penurunan drastis sebesar 48% dari rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di $126.080 yang sempat dicapai pada Oktober 2025 lalu.
Penyebab utamanya? Para “paus” institusi di Amerika Serikat sedang melakukan aksi jual besar-besaran lewat ETF (Exchange-Traded Fund). Total dana yang keluar dalam sehari mencapai $410 juta (Rp6,9 triliun)!
Apakah ini saatnya panik atau justru peluang emas? Mari kita bedah situasinya.
ETF AS “Pendarahan”, BlackRock Pimpin Aksi Jual
Dilansir dari The Block, data dari SoSoValue menunjukkan bahwa 12 produk ETF Bitcoin Spot di AS mencatatkan arus keluar bersih (net outflow) selama dua hari berturut-turut. Total dana yang kabur dari pasar dalam 48 jam terakhir mencapai $686 juta (Rp11,5 triliun).
Rincian aksi jual hari Kamis kemarin cukup mencengangkan:
-
BlackRock (IBIT): Raksasa investasi ini mencatat penjualan terbesar senilai $157 juta (Rp2,6 triliun).
-
Fidelity (FBTC): Menyusul dengan arus keluar $104 juta (Rp1,7 triliun).
-
Produk Lain: Grayscale dan Bitwise juga mencatat “zona merah”.
Tidak ada satu pun ETF yang mencatatkan arus masuk (inflow) positif. Ini adalah sinyal kuat bahwa investor institusi sedang mengambil langkah defensif (risk-off) secara serentak.
Biang Keroknya: Data Tenaga Kerja AS
Kenapa institusi tiba-tiba kabur? Jawabannya ada pada data ekonomi makro Amerika Serikat.
Laporan tenaga kerja (Nonfarm Payrolls) bulan Januari menunjukkan angka yang jauh lebih kuat dari prediksi:
-
Ekspektasi Pasar: 55.000 pekerjaan baru.
-
Realita: 130.000 pekerjaan baru.
Logika Pasarnya: Ekonomi AS yang terlalu kuat membuat Bank Sentral AS (The Fed) tidak punya alasan untuk buru-buru memangkas suku bunga. Suku bunga tinggi = Dolar kuat = Aset berisiko (Kripto/Saham) ditinggalkan. Harapan akan adanya pelonggaran kebijakan moneter tahun ini pun pupus seketika.
Prediksi Analis: Siap-siap Rp800 Juta?
Melihat kondisi ini, bank-bank besar global mulai merevisi target Harga Bitcoin mereka.
-
Standard Chartered (Geoffrey Kendrick): Memberikan prediksi yang cukup menakutkan untuk jangka pendek. Ia memperkirakan Bitcoin bisa jatuh hingga ke level $50.000 (Rp800 juta) dan Ethereum ke $1.400 (Rp22,4 juta). Target akhir tahun 2026 pun dipangkas dari $150.000 menjadi $100.000 (Rp1,6 miliar).
-
JPMorgan: Menurunkan estimasi biaya produksi Bitcoin (production cost) menjadi $77.000.
-
Insight: Jika harga pasar saat ini ($65k) berada di bawah biaya produksi ($77k), artinya banyak penambang sedang merugi. Kondisi ini biasanya memicu “kapitulasi miner” sebelum akhirnya harga menemukan dasar (bottom). Namun, JPMorgan tetap optimis target jangka panjang di $266.000.
-
Peringatan OJK:
Penurunan harga akibat aksi jual institusi global ini pasti berdampak pada bursa lokal di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) senantiasa mengingatkan investor untuk tidak menggunakan dana darurat atau pinjaman (leverage) dalam berinvestasi aset kripto. Volatilitas sedang sangat tinggi, pastikan kamu bertransaksi di Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) yang terdaftar resmi agar keamanan asetmu terjamin.
FAQ: Pertanyaan Seputar Koreksi Harga Bitcoin
Q: Kenapa kalau ETF AS jual, harga di Indonesia ikut turun?
A: Bitcoin adalah aset global. Likuiditas terbesar ada di AS. Jika harga di sana jatuh karena penjualan triliunan Rupiah, harga di seluruh dunia (termasuk Indodax, Tokocrypto, dll) akan menyesuaikan secara arbitrase.
Q: Apakah harga akan turun sampai Rp800 Juta ($50k)?
A: Standard Chartered memprediksi demikian. Secara teknikal, jika support $60.000 (Rp1 M) jebol, area $50.000 adalah pertahanan berikutnya. Namun, pasar bisa berbalik arah kapan saja jika ada berita positif.
Q: Apa maksudnya “Biaya Produksi Bitcoin $77.000”?
A: Itu adalah estimasi biaya listrik dan alat yang dikeluarkan penambang untuk mendapatkan 1 BTC. Jika harga pasar ($65.000) lebih rendah dari biaya produksi, penambang rugi. Biasanya, ini menandakan harga sudah sangat murah (undervalued) atau penambang akan bangkrut.
Q: Apakah saya harus jual sekarang (Cut Loss)?
A: Keputusan ada di tanganmu. Jika kamu trader jangka pendek, amankan modal adalah prioritas. Jika kamu investor jangka panjang (Holder), banyak yang melihat harga di bawah biaya produksi sebagai peluang akumulasi (diskon).
Q: Kapan pasar akan pulih?
A: Pasar butuh kepastian dari The Fed soal suku bunga. Kemungkinan volatilitas akan bertahan hingga ada kejelasan data inflasi (CPI) atau pergantian kepemimpinan The Fed akhir tahun ini.
Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.
