BELIASET – Dunia investasi aset digital di tahun 2026 ini sedang mengalami pergeseran tren yang sangat besar. Jika dulu perusahaan penambang (miners) dinilai bagus hanya karena mereka menimbun banyak Bitcoin, kini narasi itu mulai berubah.
Raksasa perbankan investasi global, Morgan Stanley, baru saja merilis laporan mengejutkan. Mereka memberikan “Lampu Hijau” (rating Overweight) untuk saham penambang Cipher Mining (CIFR) dan TeraWulf (WULF). Sebaliknya, pemain lama favorit ritel, Marathon Digital (MARA), justru kena “Lampu Kuning” (rating Underweight).
Alasannya sederhana namun menohok: Masa depan penambang bukan lagi sekadar bergantung pada naik-turunnya Harga Bitcoin (BTC), melainkan seberapa pintar mereka menyewakan infrastruktur listriknya untuk kebutuhan Artificial Intelligence (AI).
Pivot ke AI: Dari “Cari Emas” Jadi “Juragan Kos” Data
Dilansir dari BitcoinMagazine Analis Morgan Stanley, Stephen Byrd, menilai bahwa Cipher dan TeraWulf kini lebih menarik karena mereka bertransformasi menjadi REITs (Real Estate Investment Trusts) versi data center.
Bayangkan bedanya seperti ini:
-
Model Lama (Marathon): Seperti penambang emas yang nasibnya bergantung pada harga emas di pasar. Kalau harga jatuh, mereka rugi.
-
Model Baru (Cipher/TeraWulf): Seperti pemilik gedung/lahan yang menyewakan tempat untuk server AI. Mereka dapat uang sewa stabil (predictable cash flow) dari raksasa teknologi, tidak peduli Harga Bitcoin sedang naik atau turun.
Pasar merespons positif logika ini. Saham CIFR melonjak ke $16,50 (Rp264.000) dan WULF naik ke $16,20 (Rp259.200) setelah laporan tersebut rilis. Target harga masa depan mereka bahkan dipatok di kisaran $37-$38 (sekitar Rp600.000) per lembar!
Marathon (MARA) Dianggap Terlalu Berisiko
Nasib berbeda dialami Marathon Digital. Morgan Stanley menilai strategi Marathon yang “HODL Keras” (menimbun Bitcoin dan menerbitkan utang untuk beli Bitcoin lagi) terlalu berisiko.
Valuasi Marathon dianggap terlalu terekspos pada volatilitas Harga Bitcoin.
“Fokus Marathon pada akuisisi Bitcoin dan penerbitan surat utang konversi membuat nilainya sangat bergantung pada harga Bitcoin,” tulis laporan tersebut.
Selain itu, Marathon dinilai tertinggal dalam hal infrastruktur data center dibandingkan kompetitornya yang sudah siap melayani kebutuhan komputasi tingkat tinggi (High-Performance Computing) untuk AI.
Tren Besar: Miner Beralih Profesi?
Fenomena ini bukan hanya dialami satu dua perusahaan. Banyak penambang besar seperti IREN dan Bitfarms (kini Keel Infrastructure) juga mulai mengurangi porsi mining Bitcoin mereka demi mengejar kontrak jangka panjang dengan perusahaan Cloud dan AI.
Mengapa? Karena pasca-halving, margin keuntungan menambang Bitcoin makin tipis. Sementara itu, permintaan daya listrik untuk AI sedang meledak. Bagi investor saham, stabilitas pendapatan dari kontrak AI dinilai lebih seksi daripada spekulasi harga kripto.
Catatan OJK:
Bagi kamu investor di Indonesia, perlu diingat bahwa saham-saham penambang ini (MARA, CIFR, WULF) terdaftar di bursa AS (Nasdaq), bukan di BEI.
Namun, tren ini memberikan sinyal penting bagi pemegang aset kripto lokal: Infrastruktur pendukung Bitcoin sedang berubah. Pastikan kamu berinvestasi pada aset kripto (Spot) melalui Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) yang terdaftar di OJK agar keamanan asetmu terjamin, terlepas dari apa yang dilakukan perusahaan penambang di luar negeri.
FAQ: Pertanyaan Seputar Saham Miner dan Harga Bitcoin
Q: Apakah ini berarti Harga Bitcoin akan turun karena miner pindah ke AI?
A: Tidak secara langsung. Hashrate (keamanan jaringan) Bitcoin masih sangat tinggi. Namun, jika banyak miner beralih fungsi, persaingan menambang mungkin berkurang, yang justru bisa menguntungkan miner yang masih setia (seperti Marathon).
Q: Mana yang lebih baik dibeli: Saham Miner atau Bitcoin langsung?
A: Morgan Stanley menyarankan saham miner yang pivot ke AI (Cipher/TeraWulf) untuk stabilitas. Tapi jika kamu ingin eksposur murni terhadap kenaikan Harga Bitcoin, membeli aset koinnya langsung (Spot) tetap menjadi cara paling murni tanpa risiko manajemen perusahaan.
Q: Apa itu rating “Overweight” dan “Underweight”?
A: Overweight artinya analis memprediksi saham tersebut akan naik melebihi rata-rata pasar (Disarankan Beli). Underweight artinya diprediksi performanya di bawah rata-rata (Disarankan Jual/Hindari).
Q: Kenapa AI butuh penambang Bitcoin?
A: Karena penambang Bitcoin sudah memiliki infrastruktur listrik raksasa dan sistem pendingin canggih yang sangat dibutuhkan oleh server AI. Membangun data center baru butuh tahunan, menyewa milik miner lebih cepat.
Q: Apakah Marathon (MARA) akan bangkrut?
A: Laporan ini tidak bilang bangkrut, hanya “kurang menarik” dibanding yang lain. Marathon masih memiliki cadangan Bitcoin terbesar di antara miner publik, yang bisa jadi aset luar biasa jika Harga Bitcoin tembus rekor baru.
Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.
