BELIASET – Pasar Aset Keuangan Digital kembali “demam” di hari Selasa ini. Ketidakpastian ekonomi makro dari negeri Paman Sam kembali menjadi biang kerok utamanya.
Kali ini, pemicunya adalah Penutupan Pemerintahan AS (Government Shutdown) parsial yang dimulai akhir pekan lalu. Akibat drama politik ini, rilis data ekonomi penting seperti laporan ketenagakerjaan Januari terpaksa ditunda.
Efeknya langsung terasa ke portofolio kamu. Investor yang benci ketidakpastian memilih untuk “main aman” (risk-off), membuat Harga Bitcoin (BTC) tergelincir 1,5% ke kisaran $77.686 atau sekitar Rp1,24 miliar (kurs estimasi Rp16.000/USD). Sementara itu, Ethereum (ETH) nasibnya lebih apes, turun 4% ke level Rp36,6 juta.
Apakah ini tanda bahaya atau sekadar gangguan sesaat? Yuk, kita bedah situasinya!
Gara-Gara Shutdown, Investor “Buta” Arah
Dilansir dari The Defiant, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mengonfirmasi penundaan rilis data tenaga kerja. Bagi investor, data ini adalah “kompas” untuk memprediksi kebijakan suku bunga The Fed. Tanpa data ini, investor ibarat terbang buta.
James Harris dari Tesseract menyebutkan bahwa penurunan harga ini adalah puncak dari repricing risiko yang sudah terjadi beberapa minggu terakhir.
“Fitur utama dari aksi jual ini adalah pengetatan selera risiko yang tiba-tiba di berbagai kelas aset,” ujarnya.
Ditambah lagi, nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed yang baru semakin memperkeruh suasana, karena pasar membacanya sebagai sinyal likuiditas yang lebih ketat di masa depan.
Trader “Nangis”, Likuidasi Tembus Rp4,2 Triliun
Volatilitas akibat berita shutdown ini memakan korban para trader spekulatif. Data CoinGlass mencatat total likuidasi mencapai $266 juta atau sekitar Rp4,25 triliun dalam 24 jam terakhir.
Menariknya, kali ini korban terbesarnya bukan di Bitcoin, melainkan Ethereum.
-
Ethereum: Likuidasi sebesar $84,3 juta (Rp1,3 triliun).
-
Bitcoin: Likuidasi sebesar $57,6 juta (Rp921 miliar).
Sebanyak lebih dari 101.000 akun trader dipaksa tutup posisi (margin call) karena salah menebak arah pasar.
Peringatan OJK:
Angka likuidasi yang masif ini adalah pengingat keras bagi investor Indonesia. Hindari penggunaan leverage (utang) tinggi di pasar berjangka, apalagi saat kondisi makroekonomi sedang tidak pasti (seperti saat shutdown).BeliAset menyarankan investor ritel untuk fokus pada perdagangan Spot (fisik) yang risikonya lebih terukur.
Anomali: Harga Turun, Institusi Malah Borong!
Di tengah kepanikan ritel, data ETF justru menunjukkan hal yang membingungkan tapi positif.
Meskipun Harga Bitcoin turun, ETF Bitcoin Spot AS justru mencatatkan arus masuk (inflow) bersih sebesar $561,9 juta (Rp9 triliun) pada tanggal 2 Februari!
Ini sinyal kuat bahwa institusi besar memanfaatkan kepanikan pasar akibat berita shutdown untuk mengakumulasi Bitcoin di harga “diskon”. Sebaliknya, ETF Ethereum justru mencatatkan arus keluar tipis, menandakan institusi lebih percaya pada Bitcoin sebagai aset pelindung nilai saat ini.
Emas Digital (Tokenized Gold) Jadi Primadona
Ketika pasar saham dan kripto murni sedang merah, investor lari ke aset aman (safe haven).
Token yang mematok harga emas fisik seperti Tether Gold (XAUT) dan PAX Gold (PAXG) terpantau naik sekitar 5%.
Ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian politik AS, permintaan terhadap emas (baik fisik maupun versi digitalnya di blockchain) sedang tinggi-tingginya.
FAQ: Pertanyaan Seputar Dampak Shutdown AS
Q: Sampai kapan “Shutdown” AS ini berlangsung?
A: Belum pasti. Senat AS sudah meloloskan RUU pendanaan yang didukung Trump, tapi masih harus melewati pemungutan suara di DPR (House) yang penuh perdebatan. Jika lolos, pemerintahan bisa buka lagi minggu ini.
Q: Apakah Harga Bitcoin akan terus turun?
A: Tergantung seberapa cepat data ekonomi dirilis. Namun, fakta bahwa institusi memborong Rp9 Triliun via ETF menunjukkan adanya support kuat di level harga ini.
Q: Kenapa Ethereum turun lebih dalam dari Bitcoin?
A: Ethereum dianggap memiliki risiko lebih tinggi (higher beta) dibanding Bitcoin. Saat pasar takut (risk-off), investor cenderung membuang altcoin (ETH, SOL, dll) lebih dulu sebelum Bitcoin.
Q: Apakah aman beli token emas (XAUT/PAXG)?
A: Token emas menawarkan stabilitas. Namun, pastikan kamu membelinya di platform yang legal. Di Indonesia, perdagangan emas digital juga diatur ketat oleh Bappebti.
Q: Apa yang harus saya lakukan sekarang?
A: Pantau berita pemungutan suara di Kongres AS. Jika kesepakatan tercapai, pasar bisa rebound cepat. Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) tetap disarankan daripada menebak dasar harga.
Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.
