BELIASET – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akhir pekan lalu kembali memakan korban di pasar keuangan global. Saat aset berisiko berguguran dan Harga Bitcoin (BTC) anjlok merespons konflik terkait Iran, sebuah anomali justru terjadi pada token Hyperliquid (HYPE). Token dari bursa desentralisasi (decentralized exchange/DEX) ini malah melesat naik sekitar 6%.
Kok bisa? Ternyata, saat bursa saham tradisional Wall Street tutup dan pasar terpusat kehilangan likuiditas di akhir pekan, investor raksasa memutar dananya ke bursa kripto yang “selalu buka” 24/7 untuk melindungi nilai aset mereka. Ini adalah Big Deal yang membuktikan betapa krusialnya infrastruktur kripto terdesentralisasi di saat krisis!
Pelarian Institusi Saat TradFi “Tidur” Pulas
Dilansir dari Decrypt, Hyperliquid adalah bursa desentralisasi yang memungkinkan trader memperdagangkan kontrak berjangka (perpetual futures) langsung di atas blockchain (on-chain) tanpa perantara terpusat.
Di saat Harga Bitcoin dan aset kripto utama lainnya terseret turun karena kepanikan perang, token native bursa ini, HYPE, justru kebanjiran sentimen positif. HYPE sempat terkoreksi ke angka $26,2 (sekitar Rp441.897) pada akhir Februari, sejalan dengan pelemahan pasar. Namun, harganya tiba-tiba meroket hingga menembus $32 (Rp539.721) pada hari Minggu.
Volume perdagangannya pun mencetak rekor bulanan tertinggi, mencapai $200 juta atau sekitar Rp3,3 triliun dalam sehari!
Ryan McMillin, Chief Investment Officer di Merkle Tree Capital, menyebut bahwa Hyperliquid adalah satu dari sedikit tempat yang benar-benar buka dan likuid ketika berita Iran meledak di akhir pekan.
“Guncangan geopolitik ini memperkuat alasan mengapa kita butuh infrastruktur trading yang non-kustodial dan selalu hidup,” tambah McMillin.
Menjadi Tempat “Pertolongan Pertama” Wall Street
Fenomena ini mengungkap fakta menarik tentang bagaimana institusi keuangan besar bereaksi terhadap krisis.
Dominick John, analis di Kronos Research, menjelaskan bahwa institusi menjadikan platform DEX seperti Hyperliquid sebagai tempat “pertolongan pertama” untuk merespons risiko geopolitik. Karena bursa saham konvensional (TradFi) tutup di hari Sabtu dan Minggu, institusi menggunakan perpetual on-chain untuk melakukan hedging (lindung nilai) dan menyesuaikan posisi mereka lebih awal sebelum pasar tradisional buka di hari Senin.
Keuntungan ini mengalir langsung ke token HYPE. Di Hyperliquid, sebagian besar biaya transaksi (fees) dari kepanikan trading akhir pekan tersebut digunakan untuk membeli kembali (buyback) token HYPE dari peredaran. Semakin kacau pasar = semakin besar volume transaksi = semakin banyak token HYPE yang dibeli sistem. Ini menjelaskan mengapa HYPE sering memiliki korelasi yang rendah terhadap pergerakan Harga Bitcoin.
Konteks Regulasi OJK 2026:
Fenomena melesatnya bursa DEX global memang sangat inovatif. Namun, bagi kamu investor muda di Indonesia, ada peringatan penting yang wajib dipahami.
Di bawah pengawasan penuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2026 ini, platform DEX luar negeri belum masuk dalam kerangka regulasi lokal yang bisa memberikan perlindungan konsumen 100%. Jika kamu salah klik atau terkena hack di platform desentralisasi, tidak ada layanan pelanggan (CS) yang bisa membantumu mengembalikan dana.
OJK dan Bappebti selalu merekomendasikan investor ritel untuk berinvestasi dengan aman menggunakan platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang resmi terdaftar di dalam negeri. Hindari spekulasi derivatif berisiko tinggi jika kamu belum benar-benar paham mekanismenya.
FAQ: Apa Dampaknya Buat Kamu?
Q: Apa hubungannya perang di Timur Tengah dengan Harga Bitcoin?
A: Ketegangan geopolitik (seperti ancaman rudal atau perang) memicu sentimen risk-off (hindari risiko). Investor akan menarik uang tunai dari aset berisiko tinggi seperti saham dan Bitcoin, lalu memindahkannya ke aset lindung nilai klasik seperti emas atau minyak. Aksi jual inilah yang membuat harga turun.
Q: Apa itu Hyperliquid (HYPE) dan kenapa malah menguntungkan saat krisis?
A: Hyperliquid adalah bursa desentralisasi khusus kontrak berjangka yang buka 24 jam. Saat krisis terjadi di hari libur dan bursa biasa tutup, investor raksasa berlari ke platform ini untuk menyesuaikan portofolio mereka. Ledakan volume transaksi ini menghasilkan biaya (fee) besar yang digunakan sistem untuk membeli token HYPE (Buyback), sehingga harganya naik.
Q: Apakah aman jika saya ikut trading di DEX seperti Hyperliquid dari Indonesia?
A: Sangat berisiko, terutama jika kamu pemula. DEX luar negeri tidak terikat pada perlindungan hukum OJK. Jika terjadi likuidasi paksa (margin call) atau peretasan smart contract, danamu bisa lenyap tanpa jejak. Lebih aman berinvestasi pada koin spot di exchange lokal yang legal.
Q: Apa yang harus saya lakukan saat pasar kripto anjlok karena berita perang?
A: Jangan ikut-ikutan FOMO (Fear of Missing Out) mengejar token yang sedang hijau, atau melakukan panic selling. Jika kamu berinvestasi untuk jangka panjang, manfaatkan momentum turunnya pasar untuk melakukan strategi cicil beli secara berkala (Dollar Cost Averaging/DCA) pada aset-aset berfundamental kuat.
Disclaimer & Peringatan Risiko:
Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.
