Perang AS-Iran Memanas, Harga Minyak Meledak! Bagaimana Nasib Harga Bitcoin Minggu Ini?

BELIASET – Drama geopolitik global kembali mengguncang pasar keuangan! Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat membawa angin segar minggu lalu kini dilaporkan menemui jalan buntu. Imbasnya sangat cepat: ancaman blokade jalur perdagangan di Selat Hormuz membuat harga minyak dunia langsung meroket tajam.

Di tengah kepanikan ini, Harga Bitcoin (BTC) secara mengejutkan mampu bertahan tangguh di atas level $70.000 (sekitar Rp1,19 miliar dengan asumsi kurs Rp17.130/USD) pada penutupan pasar akhir pekan.

Bagi kamu investor muda, situasi ini adalah sebuah Big Deal. Mengapa? Konflik militer yang mengerek harga minyak dunia secara langsung memengaruhi inflasi di Amerika Serikat. Jika inflasi AS kembali “mendidih”,

Bank Sentral AS (The Fed) dipastikan akan menahan suku bunganya agar tetap tinggi. Suku bunga yang tinggi berarti aliran uang segar ke pasar aset berisiko seperti saham kripto akan sangat terbatas.

Dilansir dari Cointelegraph, mari kita bedah lima hal penting yang sedang terjadi di pasar kripto saat ini dan bagaimana dampaknya terhadap portofoliomu!

1. Minyak Sentuh Rp1,68 Juta, Bayang-bayang Inflasi Mengintai

Batalnya negosiasi damai membuat Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan melakukan blokade ketat di Selat Hormuz untuk mengontrol arus transportasi minyak. Merespons ancaman ini, harga minyak mentah langsung terbang 8% menyentuh angka $105 per barel (sekitar Rp1,68 juta).

Bagi pasar kripto, minyak mahal adalah musuh tersembunyi. Data inflasi AS, baik Indeks Harga Konsumen (CPI) maupun Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), sudah menunjukkan tren kenaikan bahkan sebelum krisis minyak ini memburuk.

Laporan analitik dari Mosaic Asset Company memperingatkan bahwa tekanan inflasi ini bisa memaksa The Fed untuk bersikap lebih kejam (hawkish) dalam kebijakan moneternya. Prediksi pasar saat ini bahkan memperkirakan The Fed tidak akan memangkas suku bunga hingga paruh kedua tahun 2027!

2. Aksi Ambil Untung Menjegal Laju Harga Bitcoin

Jika Bitcoin kebal terhadap berita perang, mengapa harganya tidak terbang ke rekor baru? Jawabannya ada pada perilaku trader jangka pendek.

Data analitik on-chain dari Glassnode menunjukkan sebuah pola yang terus berulang sejak Februari 2026. Setiap kali Harga Bitcoin menyentuh angka $70.000, para trader langsung gatal menekan tombol jual untuk merealisasikan keuntungan (take profit).

“Setiap pendekatan ke kisaran $70.000 hingga $80.000 selalu menemui likuiditas yang tipis dan tekanan ambil untung, yang pada akhirnya membatasi pantulan harga,” catat Glassnode. Aksi ambil untung ini bahkan bisa mencapai lebih dari $20 juta (Rp342 miliar) per jam setiap kali Bitcoin mencoba menembus level batas atas tersebut.

3. Menunggu Satu “Bantingan” Lagi ke Bawah?

Meski mampu bertahan di angka Rp1,13 miliar, beberapa analis teknikal memperingatkan bahwa kita mungkin belum melihat titik dasar (bottom) yang sebenarnya.

Seorang trader populer bernama Roman menjelaskan bahwa untuk benar-benar membalikkan tren secara jangka panjang, pasar membutuhkan “satu kali penurunan lagi” untuk mencetak sinyal pembalikan yang valid, mirip dengan apa yang terjadi di akhir tahun 2022. Target koreksi yang diincarnya bahkan berada di kisaran $50.000 (sekitar Rp856 juta).

4. Kabar Baik: Tekanan Jual Mulai Mereda

Meskipun ada ancaman koreksi, ada angin segar dari bursa kripto raksasa seperti Binance. Analis CryptoQuant, Amr Taha, melaporkan bahwa tekanan jual dari investor jangka pendek mulai memasuki fase yang lebih tenang.

Mereka tidak lagi melakukan panic selling atau aksi jual rugi secara impulsif. Indikator menunjukkan bahwa banyak koin yang diam di dompet tanpa dijual, menandakan kepanikan pasar sudah jauh berkurang.

5. Pemegang Jangka Panjang Makin Kuat

Lebih menggembirakan lagi, permintaan dari investor jangka panjang (long-term holders) justru semakin menguat. Valuasi keseluruhan dari aset yang dipegang oleh investor jangka panjang ini berhasil menembus angka $50 miliar (sekitar Rp856 triliun) minggu ini sebuah pencapaian yang menandakan bahwa para “Paus” dan institusi memilih untuk terus menahan aset mereka terlepas dari drama perang dan inflasi.

Strategi Aman Investor Lokal di Era OJK 2026

Melihat tarik-ulur yang kuat antara sentimen perang dan fundamental pasar, bagaimana seharusnya kamu bersikap?

Peringatan OJK:

Memasuki era pengawasan penuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2026, kematangan mental investor sangat dibutuhkan untuk menghadapi volatilitas makroekonomi global.

Saat harga tertahan oleh aksi take profit raksasa di level $70.000, bermain dengan leverage tinggi (utang) di pasar futures sangatlah berisiko. Jangan memaksakan diri untuk menebak pergerakan harian. Cara paling cerdas bagi investor Milenial dan Gen Z saat ini adalah mengamankan aset dengan metode Dollar Cost Averaging (DCA) di pasar Spot.

Tetap gunakan uang “dingin” dan pastikan seluruh transaksimu berjalan di platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang resmi terdaftar di Bappebti.

FAQ: Panduan Menghadapi Pasar Minggu Ini

Q: Apa hubungannya harga minyak dunia dengan Harga Bitcoin?
A: Harga minyak yang tinggi memicu kenaikan harga barang dan jasa (inflasi). Ketika inflasi di Amerika Serikat tinggi, bank sentral mereka tidak akan menurunkan suku bunga. Suku bunga tinggi membuat dolar AS lebih menarik bagi investor besar dibandingkan aset berisiko seperti Bitcoin, sehingga menghambat masuknya uang baru ke pasar kripto.

Q: Kenapa Bitcoin sangat sulit menembus dan bertahan di atas Rp1,19 Miliar?
A: Level $70.000 (Rp1,19 Miliar) saat ini menjadi resistensi psikologis yang kuat. Banyak trader jangka pendek yang membeli di harga bawah langsung merealisasikan keuntungannya saat harga menyentuh titik tersebut. Karena pembeli baru (demand) belum cukup besar untuk melawan aksi jual (supply) ini, harga cenderung tertahan dan turun kembali.

Q: Ada analis yang bilang harga bisa turun ke Rp800 juta, haruskah saya jual aset saya sekarang?
A: Analisis teknikal memetakan kemungkinan skenario, bukan kepastian. Jika kamu berinvestasi untuk jangka panjang (bertahun-tahun), menjual rugi (cut loss) sekarang hanya karena takut prediksi tersebut terjadi adalah tindakan emosional. Lebih baik siapkan uang tunai cadangan untuk membeli aset tambahan (serok bawah) jika penurunan tersebut benar-benar terjadi.

Q: Apa yang harus dilakukan investor pemula sekarang?
A: Bersabar. Pasar saat ini sedang “bernafas” sambil menunggu kejelasan dari konflik AS-Iran dan laporan inflasi AS. Tetap konsisten dengan rencana investasi awalmu, hindari FOMO (ikut-ikutan karena panik/serakah), dan jangan pernah menggunakan uang kebutuhan sehari-hari untuk berinvestasi.

Disclaimer & Peringatan Risiko:

Konten ini bertujuan untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Perdagangan Aset Keuangan Digital mengandung risiko tinggi dan volatilitas pasar. Pastikan kamu melakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya menggunakan platform resmi yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BELIASET tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi kamu.

What's your reaction?
Happy0
Lol0
Wow0
Wtf0
Sad0
Angry0
Rip0
Leave a Comment